Jumat, 15 April 2011

maafin Azka ya bun....

Azka sibuk dengan tugas sekolah untuk mempersiapkan pesta perpisahan siswa-siswi kelas 6. kali ini sebagai sie acara. padahal dia masih kelas 4 SD. Syarif juga sibuk memilih-milih brosur pendaftaran SMP yang diantar guru-gurunya ke rumah. maklum saja, Syarif berhasil menyabet juara umum di sekolahnya, tak cuma itu, bahkan peringkatnya berhasil masuk dalam rentetan best five di provinsi Jawa Timur. Ayah meneriakkan takbir ketika bunda menyampaikan kabar prestasi Syarif. bunda sendiri tak henti mengucap tasbih dan tahmid atas prestasi putranya itu.



insan-insan yang dinamis. kegiatan-kegiatannya.... dzikirnya... Bunda, engkau adalah salah satu sosok yang berhasil mendidik putra putrimu. Mampukah aku menjadi sosok ibunda yang sehebat engkau dalam mendidik anak-anakku kelak? Semoga Engkau mendengar doaku ya Allah....



dari pagi hingga malam Azka sibuk dengan urusan persiapan acara sekolahnya. Syarif sendiri juga sedang mentargetkan hafal juz 30 sebelum acara perpisahan sekolahnya. bunda senang dengan keatifan dan aktifitas kedua anaknya. tapi tentunya bukan hanya kebanggaan yang dirasa oleh seorang ibu. kekhawatiran pun tak lepas dari fikirannya.



tiap malam bunda menyiapkan segelas susu untuk anak-anaknya. kotak-kotak camilan di atas meja makan pun telah terisi. bunda khawatir kalo anak-anaknya terlalu lelah dan sakit. bunda memperhatikan mereka dengan cinta, kasih seorang ibu.



"sayang, jangan lupa susunya diminum. ada kue di dalam kulkas, tadi bunda beli buat Azka." kata bunda ketika melewati kamar Azka. hening, tidak ada jawaban.

'mungkin masih sibuk,' pikir bunda.

tiga puluh menit kemudian, bunda masih melihat Azka tak beranjak dari meja belajarnya di kamar. bunda akhirnya membawa susu dan kue Azka ke kamar Azka.

"assalamualaikum cinta..."

"waalaikum salam bunda."

azka menjawab salam bunda tanpa menoleh. bunda mencoba bersabar dengan tingkah putrinya akhir-akhir ini.

"ini kuenya. susunya juga jangan lupa diminum. kalo udah dingin kan nggak enak lagi sayang..."

"nantilah bunda, Azka masih sibuk niiih...." nada messo sopran Azka tiba-tiba terdengar sedikit meningkat oktafnya.

bunda terkejut.

"Azka.... " bunda duduk di tepi ranjang Azka. Azka masih juga tidak menoleh pada bunda.

"kalo Azka repot dan sibuk begitu, apakah boleh Azka tidak mendengarkan kata-kata bunda?"

kali ini Azka yang terkejut. ada nada sedih dalam suara bunda. Bunda memang tidak pernah marah pada Azka, tidak pernah membentak Azka seperti ibu-ibu lain ketika mengingatkan anak-anaknya. bunda adalah bunda yang super sabar. tapi kali ini, nada bicara bunda tampak sedih.

'ah bunda ini, nggak ngerti ya kalo Azka banyak kerjaan' Azka mengeluh dalam hati.

"Azka nggak boleh sampai tidak mendengarkan kata-kata ayah dan bunda.... anak sholehah seperti itu kah ketika ayah atau undanya berkata padanya?"

"bundaaaaaaaaaaaa, Azka masih sibuk. nanti juga Azka habisin kue dan susunya."

"ya sudah. lanjutkan saja kerjaan Azka..." bunda bangkit dari duduknya dan beranjak dari kamar putrinya.



ayah dan syarif melihat bunda meninggalkan kamar Azka. keduanya berpandangan.

"de' Azka udah keterlaluan!" Syarif bangkit dengan marah hendak menemui Azka di kamarnya. ayah menarik tangan Syarif seraya menggelengkan kepala, melarang.

"biar ayah yang bicara dengan adhe, mas Syarif temenin bunda aja ya...."



ayah memasuki kamar putrinya. Azka sedang sibuk dengan setumpuk kertas di mejanya.

"assalamualaikum.... anybody here?" ayah mencoba mencuri perhatian putrinya yang beberapa hari ini tidak bertukar cerita dengan ayah maupun bunda.

"iya ayah, waalaikum salam" jawaban singkat dengan dibarengi senyuman keluar dari arah Azka sedang bersibuk ria.

"boleh ayah minta waktunya bu presiden?"

"kenapa bu presiden ayah?" tanya Azka heran.

"karena adhe sibuuuuuuuuuuuuuuuk banget, mungkin aja bapak ibu presiden sampe kalah sama Azka...."

"ah, nggak sibuk amat ko ayah." Azka meletakkan pensil yang sedari tadi bertengger di tangannya.

"lho, susu dan kuenya ko masih utuh?" ayah memasang mimik kaget melihat susu dan kue bagian Azka masih utuh, tak tersentuh.

"belum yah.... ntar juga Azka habisin semuanya."

"sayang... taukah Azka, kalo ayah, bunda dan mas Syarif sayang sama Azka?"

"ya ayah, Azka tau itu...."

"sayang, apa azka merasa ada yang berbeda dengan kondisi rumah kita ini dalam beberapa hari terakhir?"

azka diam, berpikir, lalu menggeleng.

"Azka terlalu sibuk untuk mengetahui semua itu."

"apa Azka tanya sama mas Syarif, sudah berapa surat yang dihafal mas Syarif?"

Azka menggeleng kepala.

"apa Azka beberapa hari ini punya waktu untuk membantu bunda dan ayah? bercerita seperti biasa?"

"Azka nggak sempet yah...."

"sayang, semuanya harus berimbang.... kesibukan Azka tidak boleh sampai memutus tali silaturahmi Azka dengan siapapun di sekitar Azka, khususnya keluarga. itu tidak boleh." ayah menggoyangkan telunjuknya di depan hidung azka.

"muamalah kita tak hanya dengan Allah, tapi juga dengan manusia, dengan sesama. atao... jangan-jangan azka nggak sempet ngaji setelah maghrib dan nggak sholat tahajut beberapa hari ini"

Azka tidak menjawab. pertanyaan ayah terlalu mengena.

"sayang.... sesibuk apapun Azka, tidak boleh sampai menjadikan yang tadinya "connect" menjadi "unconnect". Azka tau, bunda paling kuatir dengan Azka. bunda kuatir kalo anak-anaknya sakit karena terlalu lelah sampai kurang bisa menjaga dirinya. bunda memperhatikan Azka karena bunda sayang sama Azka, nggak mau Azka sakit."

Azka teringat dengan nada sedih yang ditangkapnya dari suara bunda ketika bunda meninggalkan kamarnya tadi.

"kalo Azka cerita sama ayah dan ayah nggak memperhatikan cerita Azka dan ayah sibuk sendiri dengan urusan ayah, Azka sedih nggak?"

"iya ayah.... tadi bunda nyuruh azka minum susu Azka dan makan kuenya, tapi Azka bilang "nanti aja"."

"naaah, apa kira-kira bunda nggak kecewa dengan jawaban Azka itu?"

Azka diam, tidak menjawab.

"sayang, kata-kata orang tua, terutama ibu, itu tidak boleh diabaikan begitu saja. Azka ingat, ada hadist rasul yang menempatkan ibu pada kedudukan diatas seorang ayah? keutamaan ibu berada diatas keutamaan seorang ayah."

"dan ingatkah dengan "surga diatas telapak kaki ibu"?"

tiba-tiba ada rasa bersalah menyelip di hati Azka.

"bunda di mana yah?"

"kenapa?"

"Azka mau minta maaf yah...."

"bunda di kamar sama mas Syarif."



dengan cepat Azka melesat ke arah bunda berada. di depan pintu, tampak Syarif tengah mengusap air mata bunda. Syarif melihat Azka datang. raut mukanya tampak kesal pada adiknya itu.

Azka berlari memeluk bundanya.

"maaf bunda.... maafin Azka.... Azka udah bikin bunda sedih. Azka udah nggak dengerin kata-kata bunda. maaf ya bunda...." Azka terisak dalam pelukan bunda.

"nggak apa sayang. bunda hanya takut kamu sakit. bunda hanya kuatir dengan Azka. bunda nggak mau aktifitas Azka terganggu karena Azka sakit."

"maaf ya bunda...."

bunda tersenyum sambil mengusap kepala putrinya yang cerdas.

"asal jangan diulangi lagi ya sayang..."

Azka mengangguk. sekilas, Azka mencuri pandang kearah kakaknya. Syarif melengos, masih kesal.

"maaf ya mas...."

Azka menarik ujung kaos Syarif. Syarif membuang nafas dengan keras.

"sekali lagi adhe bikin bunda sedih, mas nggak akan maafin adhe." dengan sisa-sisa nada kesal, Syarif menjawab permintaan maaf adiknya.

bunda mengusap lengan Syarif sambil menggelengkan kepala. pandangannya menyiratkan teguran untuk putranya.

"krupuuuuuuuuuuuuuuuuuuuk!!!!!" ayah datang dengan setoples krupuk ditangan.

"mau sayang?" ayah menawarkan krupuk yang ada di tangannya pada Syarif dan Azka. Azka segera mencomotnya. Syarif tidak mengulur tangan. Azka memandang kakaknya.

"mas jangan marah donk.... Azka kan udah minta maaf...."

"jangan diulangi lagi ya...." suara Syarif melembut kali ini. diambilnya kerupuk di tangan Azka dan memakannya.

"kalian juga jangan berantem ya...." ayah menggoda Azka dan Syarif. bunda tersenyum dan membuka kedua tangannya dan memeluk kedua buah hatinya.

"bunda sayang sama kalian...."

"ayah jugaaaaaaa......" ayah ikut memeluk mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar