Minggu, 17 April 2011

Are we abnormal?

oleh : khunDwi

Selasa, 27 Okt '09 12:28

Duduk berpelukan berdua dengan dia. Menikmati malam tenang, setelah mengantar anak anak tidur di kamarnya.

"Honey, are we abnormal ?", tanya dia

"The way we are honey. Our relationship", lanjutnya lagi setelah melihat saya sedikit bingung.

Saya lalu berpikir. Tentang kami dan pasangan pasangan lain di sekitar kita. Lalu mulai membandingkan.

Pasangan lain mulai merasa jenuh saat pernikahannya mulai memasuki tahun tertentu. Tidak ada lagi kata cinta dan hal hal manis seperti saat pertama menikah.

Pasangan lain, mulai mencari jalan masing masing untuk "berlibur" dari pasangannya. Rapat, kesibukan di kantor, entertaint client dan perjalanan dinas adalah alasan favorit sang suami. Mengunjungi keluarga di negara asal, shopping di negara tetangga, menemani anak sekolah di negara maju, adalah alasan sang istri.

Suami dari beberapa teman nggak peduli dengan istrinya. Bagi mereka, pekerjaan domestik adalah bukan tugasnya. Suami murni hanya provider. Nggak ada hormat dan penghargaan untuk sang istri. Demikian juga sebaliknya.

"What do you think, honey?", dia bertanya ingin tahu. Melihat raut wajah saya yang tengah berpikir tentang sesuatu.

Berpikir tentang kita.

Kita memang masih terhitung baru. Baru hampir tujuh setengah tahun menikah. Baru terpisah satu sama lain sebelas malam. Tapi tidak merasa jenuh. Walau selalu bersama. Kebetulan kita selalu tinggal di gedung yang sama dengan tempat dia bekerja.

Kita masih mengucap cinta setiap saat. Menikmati kencan kencan kami, romantis dan liar.

Menikmati sering disangka penganti baru.

Saya tetap menikmati pijat kaki dari dia, saat saya lelah di malam hari. Menikmati masakannya di hari libur. Menikmati pemandangan pagi hari saat dia memandikan anak anak kami, saat dia membacakan mereka "bed time story" di malam hari. Menikmati bantuannya mengurus rumah.

Dia membuat saya kuat. Teman tertawa dan menangis. Tertawa dan menangisi banyak hal. Menangis sedih saat tahu si buyung autistic. Menangis bahagia saat di buyung berangsur membaik.

Ahhh.. kita memang jauh berbeda satu sama lain. Suku, bangsa, bahasa, budaya, usia, serta cara kita memuja Tuhan. Tapi mungkin itu membuat hubungan kita menjadi kuat.

Teringat dulu betapa susah kita untuk dapat bersama. Lalu kita berdua berjanji, bila menikah nanti akan terus bersama merawat cinta di hati berdua.

Ingat orang tua saya. Cara mereka berumah tangga. Juga teman yang lainnya. Setelah puluhan tahun menikah, mereka tetap terlihat jatuh cinta satu sama lain. Atau pasangan opa oma di taman tadi pagi. Tetap bergandeng tangan dan memanggil "sayang".

"Well, I think we are not abnormal honey", sambil melingkarkan kedua tangan saya di bahu bidangnya. "There is a lot of couples like us out there. We just not often meeting them", kata saya lagi.

"Maybe you are right. Well, we are what we are", jawabnya. "Now I want to make my self some tea. Do you want anything, my love?", tawarnya sambil beranjak ke dapur.

"Errr.. yes. English breakfast with milk and one sugar ...errrr with lots of love!"

Ahhh... saya semakin cinta dia!

dari : http://ngerumpi.com/baca/2009/10/27/are-we-abnormal.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar