Senin, 22 Desember 2008

PSIKOANALISA

BAB I
PENDAHULUAN


1.1Latar Belakang
Mahasiswa termasuk salah satu civitas akademika di perguruan tinggi yang memiliki wawasan intelektual tinggi, diharapkan dapat menyampaikan ide pikiran / gagasannya secara sistematis, baik secara lisan maupun tulisan. Dalam setiap penyampaian materi perkuliahan hampir setiap dosen mata kuliah mengharusakan mahasiswanya untuk membuat makalah untuk didiskusikan lebih lanjut sebelum pemberian materi oleh dosen mata kuliah.
Sama halnya dengan mata kuliah Psikologi. Dalam makalah ini, dari kelompok empat akan mengulas dan membahas secara langsung tentang salah satu aliran Psikologi, yakni Psikoanalisa. Kelompok empat juga akan membahas tentang sejarah tentang sejarah aliran Psikoanalisa, tokoh-tokoh, beserta pendapat mereka tentang teori-teori Psikoanalisa yang mereka ungkapkan. Makalah yang penulis buat diharapkan dapat menambah pengetahuan dan wawasan intelektual mahasiswa tentang aliran-aliran yang ada dalam Psikologi.
1.2Rumusan Masalah
Berdasarkan pada latar beakang di atas, maka pembahasan dalam makalah ini di fokuskan pada beberapa rumusan masalah, yakni:
1.Mengapa Psikoanalisa menjadi bagian dari aliran Psikologi?
2.Siapa saja tokoh-tokoh yang berperan penting dalam perkembangan Psikoanalisa?
3.Teori apa saja yang dikemukakan oleh para tokoh tersebut tentang Psikoanalisa?

1.3Tujuan
Berdasarkan pada rumusan masalah di atas, maka pembahasan makalah ini bertujuan untuk:
2Mengetahui sejarah perkemangan Psikoanalisa menjadi bagian dari Psikologi.
3Metahui tokoh-tokoh yang berperan penting dalam perekembangan Psikoanalisa
4Mengetahui teori-teori dan pendapat mereka.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1Sejarah Psikoanalisa
Psikoanalisis merupakan psikologi ketidaksadaran. Perhatiannya teruju kearah bidang motivasi, emosi, konflik, simpton-simpton neurotik, mimpi-mimpi, dan sifat-sifat karakter. Psikoanalisis dahulu lahir bukan dari pengukuan psikologi melainkan dari kancah kedokteran, yakni kedokteran bidang sakit jiwa. Hall dan Lindaay mengatakan, bahwa dalan psikologi dan psikoanalisis bersikap bermusuhan. Para psikologi bermusuhan terhadap ide-ide Freud sebelum perang dunia II (1938-1945). Namun sesudah perang dunia II, sikap permusuhan tersebut hilang, dan interpenetrasi keduanya berkembang semakin pesat.
Psikoanalisis menjadi salah satu segi pandangan yang dominan dalam psikologi akademik. Hal ini dikemukakan oleh Show, Rapport, Hall, dan Lndzey. Psikaonalisis mulai memperhatikan masalah-masalah tingkah laku normal dan mencapai puncaknya pada psikologi ego. Dan psikologi juga memperhatikan pada psikoanlisis dan psikologi kepribadian. Misalnya Lewwin dan Murray mengadakan penelitian empiris yang berhubungan dengan psikoanalisis. Tokoh-tokoh eksperimentalis seperti Hall, Miller, Mowrer, Sears, lama kelamaan juga berkenaan dengan konsep kepribadian Freud. Bahkan karya peaget dianggap jembatan psikologi ke psikoanalisis (Walff 1996; cobliner, 1967). David rapport menyusun modal psikoanalisis yang mendekati psikologi tradisional, dan ia dianggap yang paling banyak membawa prestasi psikoanalisis dalam psikologi. Klien dan Errikson mengakui pengaruh tersebut.
Adanya pelatihan-pelatihan psikologi dalam bidang psikoanalisis makin mendekatkan hubungan kedua ilmu tersebut. Diantaranya adalh psikologi George Klein, yang dipandang telah mengawinkan antara psikologi tradisional dan psikoanalisis. Nilai-nilai percobaan laboratorium mulai dikenal oleh psikoanalisis termasuk metode kuantitatif. Penghargaan terhadap penemuan-penemuan proses-proses kognitif dan pengembangan teori psikoanalisis memberikan suatu orientasi dan wawasan tentang sang pribadi yang telah terdapat dalam latar belakang pendidikan psikologi umum. Selanjutnya, psikoanalisis tidak dianggap asingoleh psikologi akademik.

2.2 Tokoh-tokoh dan Pendapatnya

A.Frans Anton Mesmer (1734-1815)
Sarjana yang dilahirkan di Iznang tanggal 23 Mei 1734 dan meninggal tanggal5 Agustus 1815 di Meersburg. Ia menemukan teknik hipnotisme sebagai teknik penyembuhan orang sakit, tetapi waktu itu tekniknya belum lagi disebut hipnotisme, melainkan mesmerisme. Mesmerisme waktu itu dianggap sebagai ilmu semu, karena yeori yang mendsarinya tidaklah cukup meyakinkan bila ditinjau dari sudut ilmu murni. Dalam teorinya tentang Animal Magnetism, Mesmer mengatakan bahwa dalam dirinya terdapat daya penyembuh magnetis yang timbul dari semacam cairan yang terdapat dalam dirinya yang dapat disalurkan ke luar melalui sebatang besi murni dan diteruskan kepeda pasienyang membutuhkan pengobatan. Sebagai seorang dokter, Mesmer berminat sekali pada teknik terapi yang berbau mistik ini, karena disamping ilmu kedokterannya Mesmer jug mempelajari Teologi (ilmu kedokteran).

B.Jean Martin Charcot (1825-1893)
Ia adalah seorang Perancis yang lahir dan meninggal di paris. Ia menjadi dokter pada tahun 1853 dan menjadi dokter di rumah sakit, dan pada tahun 1873 menjadi profesordi akademi Kedokteran Paris. Sebagai seorang dokter ia mengembangkan teknik hipnose dan sugesti mental untuk menyembuhkan pasien-pasien psikoneurotis, khususnya penderita histeria. Histeria adalah suatu gangguan emosi yang demikian kuatnya sehingga memblokir atau menghalangi berfungsinya salah atu anggota tubuh, sekalipun tidak ada gangguan orgnis. Gangguan ini umumnya terdapat pada wanita (asal kata histeria adalah “uterus” atau rahim), dan gejalanya adalah buta lumpuh. Gangguan ini sering kali disebabkan oleh suatu peristiwa yang pernah dialami oleh pasien yang bersangkutan dan peristiwa itu sangat menggoncangkan jiwa pasien tersebut. Sebagai usaha untuk melupakan peristiwa yang menggoncangkan jiwa tersebut, pasien lalu melumpuhkan salah satu anggota badannya.
Dengan teknik hipnose, Charcot menurunkan ambag kesadaran pasien sehingga peristiwa yang mengguncangkan, yang menjadi penyebab gangguan emosi itu yang selama ini dihindari oleh kesadaran dan ditekan kedalam ketidaksadaran, ditimbulkan kembali ke alam kesadaran. Dengan munculnya kembali faktor penyebab itu kealam kesadaran. Dengan munculnya kembali faktor penyebab itu ke alam kesadaran maka pasien akan sembuh dari penyakitnya.
Sbagai guru besar, Charcot mengajarkan teknik teralinya ini kepada mahasiswanya, termasuk Sigmund Freud yang kelak akan menjadi pendiri aliran psikoanalisa.

C.Pierre Janet (1859-1947)
Ia belajar ilmu kedokteran dan filsafat di Universitas Paris; pada tahun 1889 ia mendapat gelar doktor dalam filsafat dengan tesisnya tentang “psikologi dari aktifitas otomatis”. Pada tahun 1890 ia ditunjuk oleh Charcot menjadi direktur laboratorium psikologi di Salpetriere. Tahun 1982, ia menerima gelar doktor lagi, kali ini dalam bidang kedokteran dengan tesis tentang “Keadaan Mental Pada Histeria” di mana ia mencoba menggolongkan secara sistematis berbagai jenis histeria dan mencari hubungan antara simptom-simptom histeria dengan teori-teori psikologi. Ia mengajaar pada universitas Sorbonne dari 1985-1902 dan kemudian menggantikan kedudukan Ribbot sebagai ketua psikologi pada College di France sampai ia pensiun pada 1936. Sejak 1904 Janet menerbitkan dan mengedit Journal de Psikologie Normale et Pathologique sampai tahun 1937.
Janet berpendirian bahwa studi yang ilmiah dari psikologi hanya dapat dilaksanakn bila semua proses mental diterjemahkan sebagai tingkah laku. Ia termasuk orang yang menekankan sifat dinamis dan kesatuan dari gejala-gejala psikologis.
Janet mempunyai suatu teori tentang kepribadian yang disebut teori strata, kepribadian terdiri dari kecenderungan-kecenderungan yang tersusun secara hirarkis dari yang paling rendah (misalnya Refleks) sampai yang paling tinggi (misalnya akal). Semua kecenderungan-kecenderungan itu memiliki sejumlah energi tertentu yang berasal dari sumber-sumberfisiologis, psikologis, dan juga dari keturunan. Energi-energi itu kalau diaktifkan akan membuat suatu kecenderungan menjadi suatu tingkah laku. Kecenderungan dari tingkat yang rendah biasanya mempunyai energi yang lebih besar dari kecenderungan tigkat tinggi. Karena itu kecenderungan tingkat rendah lebih mudah terangsang dan lebih cepat melepaskan energi-energinya dalam jumlah besar daripada kecenderungan tingkat tinggi yang hanya bisa melepaskan energinya sebagian-sebagian. Banyak sedikitnya energi yang bisa dibebaskan pada kecenderungan tertentu akan memberikan tingkat ketegangan(tension) tertentu pada individu yang bersangkutan. Tingkat ketegangan ini menurut Janet adalah indikasi untuk menetapkan klasifikasi kelainan kepribadian.
Orang-orang normal biasanya bisa mempertahankan energi-energi dari kecenderungan tingkat rendah sampai pada batas tertentu dan dapat melepaskan lebih banyk energi pada kecenderungan tingkat yang lebih tinggi. Seorang Psikoneoritis aalah orang yang terlalu banyak mempertahankan energi pada tingkat yang rendah terlalu banyak diepas dan kecenderungan pada tingkat akal terlalu banyak dipertahankan energinya, maka orang yang bersangkutan adalh psikopat.
Teori stara dari janet ini dapat diperbandingkan dengan teori id ego-super ego yang dikemukakan oleh freun, sedangkan energi-energinya janet dapat dipersamarkan dengan dorongan-dorongan (seksual dan agresi) pada freun.
Karya-karya Janet antara lain: L’automatisme(1889),L’etatmental des histeriques (1892),Les obsession et la psycashtenie (1903), Neuroses et idees fixes (1904), dan Les nevroses (1909).


D.Sigmund Freud (1856-1939)
Freud adalh seorang Jerman keturunan Yahudi, pada masa kebangkitan Hitler, ia harus melarikan diri ke Inggris dan meninggal di London tanggal 23 September 1939. Freud secara skematis menggambarkan jiwa sebagai sebuah gunung es. Bagian yang muncul dipermukaan air adalah bagian yang terkecil, yaitu puncak dari gunung es itu, yang dalam hal kejiwaan adalah bagian kesadaran (consiousness) Agak dibawah permukaan air adalah bagian yang di sebutnya prakesadaran (Subconsiousness atau Preconsiousness). Isi dari prakesadaran adalah hal-hal yang sewaktu-waktu dapat muncul kekesadaran. Bagian yang terbesar dari gunung es itu berada di bawah permkaan air sama sekali dan dalam hal jiwa merupakan alam ketidaksadaran (unconsciousness). Ketidaksadaran ini berisi dorongan-dorongan yang ingin muncul ke permukaan atau mendesak ke kesadaran.Dorongan-dorongan ini mendesak terus ke atas, sedangkan tempat di atas sangat terbatas sekali. Tinggallah “ego” (aku) yang memang menjadi pusat dari kesadadran yang harus mengatur dorongan-dorongan yang manayang harus tetap tinggal di ketidaksadaran. Sebagian besar dari doronga-dorongan yang berasal dari ketidaksadaran itu memang harus tetap tinggal dalam ketidaksadaran, tetapiu mereka ini tidak tinggal diam, melainkan mendesak terus dan kalau “ego” tidak cukup kuat menahan desakan ini akan terjadilah kelainan-kelainan kejiwaan seperti psikoneurose atau psikose. Dorongan-dorongan yang terdapat dalam ketidaksadaran sebagian adalah dorongan-dorongan yang sudah ada sejak manusia lahir, yaitu dorongan seksual dan dorongan agresi, sebagian lagi berasal dari pengalaman masa lalu yang pernah terjadi pada tingkat kesadaran dan pengalaman itu bersifat traumatis (menggoncangkan jiwa), sehingga perlu di tekan dan dimasukkan dalam ketidaksadaran. Segala tingkah laku manusia menurut freud, bersumber pada dorornga-dorongan yang terletak jauh di dalam ketidaksadaran, karena itu psikologi freud disebut juga psikologi dalam (Depth psychology). Selain itu teori freud disebut juga sebagai teori psikodinamik (dynamic psychology), karena ia menekankan kepada dinamika atau gerak mendorong dari dorongan-dorongan dalam ketidaksadaran itu ke kesadaran.
Teori psikoanalisa dari freud dapat berfungsi sebagaia tiga macam teori, yaitu:
1.Sebagai teori kepribadian
2.Sebagai teknik analisa kepribadian.
3.Sebagai metode terapi (penyembuhan)
Sebagai teori kepribadian, psikoanalisa mengatakan bahwa jiwa terdiri dari tiga sistem yaitu: id (es), super ego (uber ich) dan ego (ich). Id terletak dalam ketidaksadaran. Ia merupakan tempat dari dorongan-dorongan primitif, yaitu dorongan-dorongan yang belum dibentuk atau dipengaruhi oleh kebudayaan, yaitu dorongn untuk hidu dan mempertahankan kehidupan (life instinch). Bentukn dari dorongan hidup adalah doronga seksual atau disebut juga libido dan bentuk dari dorongan mati adalah dorongan agresi, yaitu dorongan yang menyebabkan orang ingin menyerang orang lain, berkelahi atau berperang atau marah. Prinsip yang dianut oleh id adalah prinsip kesenangan (pleasure prinsiple), yaitu bahwa tujuan dari id adalah memuaskan semua dororngan primitif ini.
Superego adalah suatu sistem yang merupakan kebalikan dari id. Sistem ini sepenuhnya dibentuk oleh kebudayaan. Seorang anak pada waktu kecil mendapat pendidikan dari orang tua dan melalui pendidikan itulah ia mengetahui mana yang baik, mana yang buruk, man yang boleh dilakukan dan mana yang idilarang, mana yang sesuai dengan norma masysrakat, man yang melanggar norma. Pada waktu anak itu menjadi dewasa, sgala norma-norma yang diperoleh melalui pendidikan itu menjadi pengisi dari sistem superego. Sehingga superego berisi dorongan-dorongan untuk berbuat kebaikan, dorongan untuk mengikuti norma-norma masyarakat dan sebagainya. Dorongon-dorongan atau energiyang berasal dari superego ini akan berusaha menekan dorongan yang timbul dari id karena dorngan dari id yang masih primitif ini tidak sesuai atau tidak bisa diterima oleh superego.Di sinilah terjadi tekan menekan antara dorongan-dorongan yang berasal dari id dan superego. Kadang-kadang superegolah yang menang, kadang kadang id lah yang lebih kuat.di sini pula nampak teori psiodinamiki dari freud.
Ego adalah sistem di mana kedua dorongan dari id dan superego beradu kekuatan.fungsi ego adalah menjaga keseimbangan antara kedua sistem yang lainnya, sehingga tidak terlalu banyak dorongan dari id yng di munculkan ke kesadaran, sebaliknya tidak semua dorongan superego saja yang dipenuhi.Ego sendiri tidak mempuyai dorongan atau energi.Ia hanya menjalankan prinsip kenyataan, yaitu menyesuaikan dorongan id atau superego dengan kenyataan di dunia luar. Ego adalah satu-satunya sistem yang langsung berhubungan dengan dunia luar, karena itu ia dapat mempertimbangkan faktor kenyataan ini. Ego yang lemah tidak dapat menjaga keseimbangan antara superego dan id. Kalau ego terlalu dikuasai oleh dorongan-dorongan dari id saja, maka orang itu akan menjadi psikopat (tidak memperhatikan norma-norma dalam segala tindakannya), kalau orang itu terlalu dikuasaioleh superegonya, maka orang itu akan menjadi psiko neurose(tidak dapat menyalurkan sebagian besar dorongan-dorongan primitifnya). Disini nampak persamaan teori freud dan teori strata dari Pierre janet.
Selanjutnya freud mengatakan bahwa untuk menyalurkan dorongan-dorongan primitif yang tidak bisa dibenarkan oleh superego, ego empunyai cara-cara tertentu yang disebut sebagai mekanisme pertahanan. Mekanisme pertahanan ini di gunanya untuk melindungi ego dari ancaman dorongan primitif yang mendesak terus karena tidak di izinkan muncul oleh superego. Sembilan mekanisme petahanan yang dikemukakan freud adalah:

1.Represi
Suatu hal yang pernah dialami dan menimbulkan ancaman bagi ego ditekan masuk keketidaksadaran dan di simpan di sana agar tidk mengganggu ego lagi. Perbedaannya dengan proses lupa adalah bahwa dalam lupa hal yang dilupakan itu hanya disimpan dalam bawah sadar dan sewaktu-waktu dapat muncul kembali, sedangkan pada represi (Repression) hal yang di repres tidak dapat dikeluarkan ke kesadaran dan disimpannya dalam ketidaksadaran. Contoh represi: seorang pemuda berjalan-jalan dengan pacarnya. Di tengah jalan mereka bertemu dengan pemuda lain yang mengaku kawaan lama pemuda pertama. Mereka mengobrol lama, tetapi pemuda pertama tidak bisa mengingat siapakah pemuda kedua, dan seolah-olah lupa ia tidak memperkenalkan pacarnya pada pemuda kedua. Dari pemeriksaan yang dilakukan kemudian, ternyata bahwa beberapa tahun yang lalu pemuda kedua pernah merebut kekasih pemuda pertama dan peristiwa ini dianggap sangat menyakitkan hati pemuda pertama dan untuk melepaskan egonya dari kesakitan hati itu, maka pemuda pertama menekan pengalaman ini kedalam ketidaksadaran. Bahwa pengalaman yang sudah disimpan dalam ketidasadran itu masih punya pengaruh tidak langcung terhadap tingkah laku, nampak dalam peristiwa perjumpaan dengan pemuda tersebut.

2.Pembentukan Reaksi (Reoction Formation)
Seseorang bereaksi justru sebaliknya dari yang dikehendakinya demi tidak melanggar ketentuann dari superego. Misalnya seorang ibu membnci anaknya, karena anak ini hampir merenggut jiwanya waktu ibu itu melahirkan. Ibu ini ingin sekali membunuh anakny (dorongan agresi), tetapi superego tidak membenarkan perbuatan itu. Karena itu, ibu ini bertindak sebaliknya, yaitu sangat menyyanginya secara berlebih-lebihan terhadap anak. Sebagai akabat dari kasih sayang yag berlebih-lebihan itu , maka anak juga menderita karena seba terkekang.
3.Proyeksi (Projection)
Karena superego seseorang melarang ia mempunyai suatu perasaan atau sikap tertentu terhadap orang lain, aka ia berbuat seolah-olah orang lain itulah yang punya sikap atau perasaan tertentu itu terhadap dirinya. Misalnya A membenci B. Tetapi superego melarang A membenci B (misalnya karena B atasannya), mka A engatakan bahwa B lah yang membenci dia.
4.Penempatan yang Keliru (Displacement)
Kalau seseorang tidak dapat melampaskan perasaan tertentu karena hambatan dari superego, maka ia akan melampiaskan perasaan tersebut kepada pihak ketiga. Misalnya, A tidak ssenang karena dimarahi B, tetapi A tidak dapat marah kembali kepada kembali ke B, karena B adalh atasannya, maka kemarahannya ini dilampiaskannya pada c yang bawahn dari A.
5.Rasionalisasi (Rasionalisation)
Dorongan-dorongan yang sebenarnya dilarang oleh superego dicarakn penalaran sedemikian erupa, sehingga seolah-olah dapat di benarkan. Misalnya menurut superego A sebenarnya tidak boleh memukul B, tetapi A tetap memukul B dan memberi alasan hal itu dilakukannya untuk mendidik B atau agar B diwaktu yang akan datang bisa bertingkah laku lebih baik.
6.Supresi (Supression)
Supresi adlah juga menekankan sesuatu yang dianggap membahayakan ego kedalam ketidaksadran. Tetapi berbeda dengan represi, maka hal yang ditekan dalam supresi adalah hal-hal yang datang dari ketidaksadaran sendiri dan belum pernah muncul dalm kesadaran. Dorongan oedipoes complex misalnya,yaitu dorongan seksual dari anak laki-laki terhadap ibunya yang menurut freud terdapat pada setiap anak, biasanya tidak pernah dimunculkan dalam kesadaran karena bertentangan denagan superego atau norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Karena itu orang umumnya mensupresi oedipoes complex itu dalam ketidaksadran.
7.Sublimasi (Sublemation)
Dorongan-dorongan yang tidak dibenarkan oleh superego tetap dilakukan juga dalam bentuk yang lebih sesuai dengan tuntutan masyarakat. Misalnya dorongan agresi untuk membunuh orang lain yang sebenarnya tidak dibenarkan oleh superego tetap dilakukan dengan alasan peperangan; berdansa adalah sublimasi dari dorongan seksual; bertinju adalah olah raga yang merupakan sublimasi dorongan-dorongan agresi.
8.Kompensasi (Compensation)
Usaha untuk menutupi kelemahan disalah satu bidang atau organ dengan membuat prestasi yang tinggal diorgan lain atau bidang lain. Dengan demikian, maka ego terhindar dari ejekan atau rasa rendah diri. Misalnya seorang gadis yang kurang cantik tidak berhasil menarik perhatian orang, tetapi ia belajar tekun sekali sehingga walaupun ia gagal menarik perhtian orang dengan kecantikannya ia tetap memperoleh kepuasan karena orang mengagumi kepandaiannya.
9.Regresi (Regretion)
Untuk menghindari kegagalan atau ancaman terhadap ego, individu mundur kembali ketaraf perkemabangan yang lebih rendah, misalnya ia menjadi keknakan kembali. Misalny orang yang sudah memasuki usia tua, takut menghadapi ketuaan, maka ia menjadi kekanak-kanakan kembali.
Dalam teori psikoanalisa sebagai teori kepribadian freud selanjutnya mengatakan bahwa pada setiap orang terhadap seksualitas kanak-kanak (invantile sexuality), yaitu dorongan seksual yang sedah terdapat sejak bayi. Doronga ini iakan berkembang terus menjadi dorngan seksualpada orang dewsa melalui beberapa tingkat prkembangan, yaitu:
1)Fase Oral (Mulut)
Pada fase ini kepuasan seksual terutama terdapat di sekitar mulut. Perbuatan bayi menyusu pada ibunya atau memasukkan benda-benda kedalam mulutnya adalah dalam rangka mencapai kepuasan seksual fase oral ini.
2)Fase Anal (Anus)
Pada usia kira-kira 2 tahun, daerah kepuasan seksual berpindah ke anus dan anak mendapatkan kepuasan dengan menikmati duduk di pispot sampai lama.
3)Fase Phalic
Terdapat pada anak berusia 6-7 tahun. Kenikmatan seksualnya terdapat pada alat kelamin, tetapi berbeda dengan kepuasan sex orang dewasa, pada fase ini kepuasan yang diperoleh dari aktifitas seksual belum dihubungkan dengan tujuan pengemabangan keturunan.
4)Fase Latent
Mulai anak berusia 7 atau 8 tahun sampai ia menginjak awal masa remaja, seolah-olah tidak aktifitas seksual. Kerena itu masa ini disebut fase latent (= tersembunyi).
5)Fase Genital
Dimulai sejak masa remaja segala kepuasan seks terutama berpusat pada alat-alat kelamin.
Psikoanalisa disamping sebagai teori kepribadian, dapat pula berfungsi sebagai teknik analisa kepribadian. Untuk dapat menerangkan suatu gejala psikoneurose misalny, agar dapat diusahakan penyembuhan terhadap penderita yang bersangkutan maka perlu di analisa terlebih dahulu kepribadian penderita yang bersangkutan. Dalam analisa ini umumnya dipergunakan 2 cara pendekatan, yaitu pertama-pertama melihat dinamika dari dorongan-dorongan primitif (khususnya libido).
Terhadap ego dan bagaimana superego menahan dorongan-dorongan primitif itu. Selanjutnya perlu dilihat apakah ego bisa mempertahankan keseimbangan antara kedua dorngan yang saling menekan itu? Kalau ego tidak bisa memperoleh keseimbangan, maka perlu diteliti apa yang menyebabkan melemahnya ego itu. Pendekatan kedua adalah pendekatan sejarah kasus (Case history), terutama untuk melihat fase-fase perkembangan dorongan seksual apakah berjalan wajar, apakah ada hambatan-hambatan dan kalau ada di fase mana mulai terjadi hambatan iu.
Teknik-teknik yang dipergunakan dalam menganalisa kepribadianselanjutnya dipergunakan juga sekaligus sebagai teknik psikoterapi karena pada prinsipnya psikoanalisa mengakui bahwa kalau faktor penyebab yang tersembunyi didalam ketidaksadaran sudah bisa diketahui dan dibawah ke kesadaran maka penderita dengan sendirinya akan sembuh. Sebagai seorang murid Charcot, Freud masih berpedirian sama dengan Charcot, yaitu bahwa penyakit biasanya (psikoneurose) umumnya dapat isembuhkan setelah faktor penyebab dalam faktor ketidaksadaran dapat diketahui.
Teknik untuk menganalisa kepribadian pada Charcot adalah dengan teknik hipnose, yaitu menurunkan ambamg kesadaran sehingga sampai pada tingkat ketidaksadaran dan selanjtnya dokter mengeksplorasi ketidaksadranselama pasien dalam keadaan dihipnose ini. Menurut freud, teknik hipnose hasilnya tidak bisa bertahan lama, karena bila penderita sudah sadar kembali dari hipnose, maka kesadarnnya akan menutupi kembali ketidaksadarannya dan dorongan yang berasal dari ketidaksadaran itu akan tetap berada dalam ketidaksadaran dan akan terus mengganggu dalm bentuk neurose. Karena itu freud lebih menyukai teknik psikoanalisa, yaitu penderita secara sadar sepenuhnya diajak mengeksplorasi ketidaksadarannya. Salah satu tekniknya adalah analisa mimpi (traumdeutung). Penderita disuruh menceritakan mimpi-mimpinya dan mimpi-mimpi itu kemudian dicoba dianalisa. Freud percaya bahwa dorongan-dorongan primitif, maupun hal-hal yang derepresi, yang tidak dapat muncul dalam kesadaran dapat memunculkan dirinya dalam bentuk simbol-simbol dalam mimpi. Karena itu dengan menganalisa mimpi freud mengharapkan bisa mengetahui dinamika kepribadian penderita yang bersangkutan.
Teknik yang lain adalah membiarkan penderita berbicara sendiri sebebas-babasnya dengan menggunakan asosiasi bebas. Dalam teknik ini penderita yang disuruh berbaring, serileks mungkin diminta untuk mengasosisikan kata-kata yang diucapkannya sndiri atau kata-kata yang dilontrkan oleh dokter yang memeriksa dengan kata-kata yang pertama kali muncul di ingatannya. Dengan teknik ini, Freud mengharapkan dapat menjaga isi ketidaksadaran dari penderita yang bersangkutan.

E.Carl Gustaf Jung (1875-1961)
Tokoh psikoanalisa berikutnya adalah Carl Gustaf Jung. Jung sedikit banyak memiliki kesamaan pemikiran dengan Freud. Thun 1913 ia berhenti menjadi dosen untuk mengkhususkan dirinya dalam riset-riset. Sejak 1906 ia mulai tulis menulis dengan Freud, yang baru dijumpainya pada pertama kali setahun kemudian, yakni 1907. Pertemuan yang terjadi di Wina ini sangat mengesankan bagi kedua belah pihak, sehingga terjalinlah tali persahabatan antara mereka. Freud begiti menaruh kepercayaan pada Jung, sehingga Jung dianggap sebagai seorang yang patut menggantikan Freud di kemudian hari. Sebaliknya Jung pun demikian mengagumi Freud sehingga merasa perlu mendirikan perkumpulan Freud pada tahun 1907 di Zurich. Tahun 1908 Jung mengorganisir kongres internasianal psikoanalisa yang pertama di Salzburg. Tahun 1911, dengan dukungan dari Freud, Jung terpilih menjadi ketua pertama dari persatuan psikoanalisa internasional. Tetapi tidak lama setelah itu mulailah timbul kesulitan-kesulitan dalam hubungan antara mereka berdua.
Kesulitan ini berpangkal pada penolakan Jung terhadap teori libidonya Freud. Hubungan surat-menyurat mereka dihentikan pada tahun 1913 dan pada tahun 1914 jung mengundurkan diri dari jabatan ketua dan kemudia melepaskan juga keanggotaan pada Persatuan Psikoanalisa Internasianal.
Antara tahun 1921-1926 Jung mengadakan ekspedisi-ekspedisi ke masyarakat-masyarakat yang masih berkebudayaan primitif di Arizona, Mexico, Afrika Utara dan Kenya untuk mendalami soal-soal mitologi, alkimia (alchemy) atau kimia kuno, agama da ilmu gaib.
Antara tahun 1933-1942 Jung menjadi guru besar di Politeknik Zurich dan pada tahun 1944 ia di angkat sebagai guru besar dalam psikologi kedokteran di Universitas Basley.
Berbeda dengan teori Freud tentang kepribadian yang lebih bersifat mekanistis dan berdasar ilmu alam, konsepsi analitis Jung mengenai kepribadian menunjukkan usahanya untuk menginterprestasikan tingkah laku manusia dalam sudut filsafat, agama dan mistik. Teori Jung juga dibedakan dengan teori psikoanalisa Freud pada penekanannya yang lebih kuat pada tujuan tingkah laku (teleologi), sedangkan Freud lebih menekankan faktor kausalitas sebagai penentu tingkah laku. Jung juga menekankan adanya dasar-dasar rasial dan filogenetis dari kepribadian dan sangat kurng mamentingkan arti dorongan-dorngan seksual dalam perkembangan kepribadian.
Dalam menerangkan kepribadian, Jung sebagaimana juga Freud, menggunakan konsep libido. Tetapi berbeda dengan Freud, Jung tidak melihat libido sebagai dorongan-dorongan seksual, melankan, ia melihatnya sebagai energi yang mendasari berbagai macam proses mental seperti berfikir, merasa, berhasrat, menghindar dan sebagainya. Aktifitas Psikis tidak ditentukan oleh prinsip kesenangan (pleasure principle), melainkan muncul secara otonom melalui libido dan ditentukan terutama oleh prinsip pelepasan energi.
Keseluruhan kepribadian menrut Jung terdiri dari 3 sistem yang saling berhubungan yaitu kesadaran, ketidajsadaran pribadi (personal uconsciouness) dan ketidaksadaran kolektif (Colectife uconciousness). Pusat dari kesaaran adalah ego yang terdiri dari ingtan, pikiran dan perasaan. Ego inilah yang memungkinkan sesorang menyesuakan diri dengan lingkungannya. Ketidaksadran pribadi terdiri dari pengalaman-pengalaman pribai, harapan-harapan dan dorongan-doronga yang pernah disadari tetepi tidak dikehendikai olehnego sehingga terpaksa didorong ke ketidaksadaran. Pada saat-saat tertentu, ketidaksadaran pribai ini bisa muncul kembali ke kesadaran dan mempengaruhi tingkah laku.
Ketidaksadaran kolektif adalah sistem yang palaing berpengaru terhadap kepribadian dan bekerja sepenuhnya diluar kesadaran orang yang bersangkutan. Sistem ini merupakan pembawaan rasial yang mendasari kepribdian dan merupak kumpulan pengalaman-pengalaman dari generasi-generasi terdahulu bahkan, dari nenek moyang manusia waktu masih berupa hewan. Komponen ketidaksadaran kolektif ini disebut arkhetip (archetype), yaitu kecendurungan-kecenderungan yang universal dan merupakan pembawaan pada manusia yang menyebabkan manusia bertingkah laku dan mengalami hal-hal yang selamanya berulang, serupa dengan yang telah dilakukan dan dialami oleh nenek moyang yang manurunkannya (misalnya kelahiran, kematian, menghadapi bahaya dan lain dorongan-dorongan dari ketidaksadaran).
Ego, sebagai pusat dari kesadaran dan merupakan tempat kontak dengan dunia luar mempunyai tugas untuk mengadakan keseimbangan antara tuntutan dari luar dengan dorngan-dorongan yang datang dari ketidaksadaran pribadi maupun ketidaksadaran kolektif. Dalam tugasnya ini ego sampai batas-batas tertentu pula dapat mempengaruhi atau mengubah dunia luar, dan sampai batas tertentu pula dapat mengontrol ketidaksadarn pribadi tetapi ego tidak mempunyai kekuatan apapun untuk mempengaruhi kesadaran kolektif, bahkan egolah yang dipengaruhi oleh dorongan-dorongan dari ketidaksadaran kolektif itu. Kalau ego tidak berhasil menjaga keseimbangan antara tuntutan dari dunia luar, dorongan ketidaksadaran pribadi dan ketidaksadarn kolektif, maka ego akan menderita dan orang yang bersangkutan akan menderita neurose.
Suatu teori dari Jung yang penting pula dikemukakan adalah teori tipologi kepribadian. Jung berpendapat bahwa manusian di dunia ini pada dasarny dapat digolongkan kedalam beberapa jenis saja, tergantung pada jenis atau tipe kepribadiannya. Kepribadian menurut Jung bisa dibagi-bagi berdasarkan dua aspek yaitu berdasarkan fungsinya dan berdasarkan reaksinya terhadap lingkungan.

Berdasarkan fungsinya manusia dapat di bagi dalam dua tipe kepribadian:
1.Kepribadian yang rasional, yaitu terdapat pada orang-orang yang berpaling oleh akal atau rasionya sehingga tiap tindakannya diperhitungkannya benar-benar.
2.Kepribadian yang intuitif, artinya kepribadian yang sangat di pengaruhi oleh firasat atau perasaan kira-kira. Orang dengan kepribadian seperti ini bersifat spontan.
3.Kepribadian emosional, terdapat pada orang-orang yang sangat dikuasai oleh emosinya, cepat menjadi sedih atau cepat menjadi gembira, menilalai segala sesuatu berdasarkan suka atau tidak suka.
4.Kepribadian yang sensitf, yaitu kepribadian yang dipengaruhi terutama oleh panca indra dan cepat sekali bereaksi terhadap rangsang yang diterima panca indra (sensation).
Selanjutnya, berdasarkan reaksi terhadap lingkungan, kepribadian dapat dibagi dalam dua tipe yaitu:
1.Kepribadian yang ekstrover, yaitu kepribadian yang terbuka, terdapat pada orang-orang yang lebih berorientasi keluar, kelingkungan, kepada orang lain. Orang-orang seperti ini senang bergaul, ramah, mudah mengerti persaan orang lain.
2.Kepribadian yang intriver, yaitu kepribadian yang tertutup, lebih bnyak berorientasi kepada diri sendiri. Tdak mudah kontak dengan orang kain.
3.Kepribadian yang ambivert, yaitu tipe kepribadian yang tidak dapat digolongkan kedalam tipe ekstrver dan introver.

F.Alfred Adler (1870-1937)
Dokter ahli penyakit dalam ini dilahirkan dalam. Ia pertama kali berjumpa dengan Freud tahun 1899 dan perjumpaan ini berlangsung sampai 1900. Sejak perjumpaannya ini Adler menjadi pengikut yang setia dari Freud di Wina, tetapi hubungan ini tidak lama, karena pada tahun 1907 Freud menyingkirkan Adlerdari kehidupannya karena Adlermenulis kertas kerja berjudul “Organ Inferiority”.
Kertas kerja berjudul “Organ Inferiority” ini selanjutnya menjadi dasar dan pikiran-pikiran Adler seluruhnya. Dalam kertas kerja itu ia mengatakan bahwa setiap manusia pada dasarny mempunyai kelemahan organis. Berbeda dengan hewan, manusia tidak diperlengkapi dengan alat-alat tubuh untuk melawan alam. Karena itu seorang bayi yang baru lahir terpaksa sepenuhnya menggantungkan dirinya pada orang lain terutama pada ibunya. Tetapi justru kelemah-kelemahan organis inilah yang membuat manusia lebih ungguldari makhluk lain. Menurut Adler kelemahan-kelemahan organis inilah yang mendorong manusia untuk menjadikan kompensasi. Manusia mengembangkan akalnya sedemikian rupa sehingga bisa mengkompensasi (menutupi) kelemahan organisnya. Mekanisme kompensasi inilah yang mendasari tingkah laku manusia. Dengan demikian Adler mengingkari teori libido dari Freud. Pengingkaran ini secara terang-terngan dan secara tertulis dikemukakannya dalm sebuah kertas kerja pada tahun 1911.
Teori Adler yang pengaruhnya sampai juga ke Amerika Serikat karena Adler pernah menjadi dosen tamu di Universitas Columbia antara tahun 1926-1927, sering kali disebut juga sebagai teori psikologi individual (individual psychology). Ia mengatakan bahwa “organ inferiorty” pada masing-masing orang tidaklah sama, melainkan khas bagi orang itu sendiri. Dengan demikian cara mekompensasi inferioritas itu tidak pula sama, tergantung dari tujuan yang hendak dicapai oleh individu yang bersangkutan. Fungsi tujuan atau “telos” dalam menentukan tingkah laku kompensasi yang hendak diperbuat seseaorang dalam teori Adler sangat penting. Karena itu teorinya ini sering pula dikatakan sebagai teori yang bersifat teologis. Di samping itu Adler disebut juga sebagai sarjana psikologi yang sosiologistis, karena menurut pendapatnya watak seseorang ditentukan pula oleh hubungan orang itu dengan masyarakatnya.
Mengenai hubungan denagan masyarakat ini Adler mengatakan bahwa pada dasarnya pada setiap orang terdapat hasrat atau dorongan untuk diakui atau dianggap penting atau dorongan untuk diakui atau dianggap penting oleh masyarakat. Dorongan ini disebut “geltungstrieb” yang mendapat hambatan berat dari perasaan rendah diri akibat dari adnya “Organ inferiority” ini terpksa harus di atasi dengan kompensasi untuk dapat memenuhi “geltungstrieb” itu. Disinilah letak dinamika keperasaaan pribadi dan motor dari tingkah laku menurut Adler, yaitu adanya perasaan rendah diri yang ditantang adanya dorongan untuk dipandang dalam masyarakat.
Sekalipun demikian, tidak semua orang bisa berhasil melakukan kompensasi. Pada beberapa orang, perasaan rendah diri bisa meningkat menjadi kompleks rendah diri bisa meningkat menjadi kompleks rendah diri (inferiority complex) dan dalam hal ini individu biasanya melakukan kompensasi berlebihan (over compensation). Kompenssi berlebihan ini bisa menimbulkan neurose pada beberapa orang.
G.Granville Stanly Hall (1844-1924)
Tokoh yang berasal dari Massachussets, Amerika Serikat ini adalah seorang sarjana teologia lulusan New York, tetapi kemudian mempelajari fisiologi, fisika dan filsafat di Bonn di Berlin. Minatnya kemudian pindah ke psikologi. Ia adalah orang Amerika pertama yang mendapat gelar Doktor dalam psikologi di Jermandengan tesisnya yang berjudul “The Muscular Perception of Space” (18780. Di Jerman ia pernah menjadi murid Wundt di Leipzig dan pernah bekerja sama dengan Helmhotz di Berlin. Pada 1881 ia kembali ke Amerika Serikat dan menjadi guru besar di Universitas John Hopkins.
Hall adlah orang yang sangat aktif dan produktif. IA termasuk salah seorang yang mendorong tumbuhnya psikologi diAmerika Serikat. Ia membangun salah satu laboratoriu psikologi yang tertua di Amerika Serikat, yaitu di universitas john Hipkins(18840Tahun 1887 ia menrbitkan American Psychologycal association (APA) dan menjadi presidennya yang pertama. APA sampai sekarang masih berdiri dan merupakan suatu orgnisasi sarjana psikology yang terbesar di Amerika Serikat.
Teori Hall yang terkemuka adalh teori evolusi. Dengan teori ini ia sering di sebut sebagai “Darwin of the Mind” karena ia seolah-olah menerapkan teori evolusi dari Darwin kepada perkembangan jiwa. Teori ovolusinya berbunyi “Ontogeny Recapitulates Phylegony”. Artinya proses perkembangan individu sejak dia lahir sampai dewasa tidak lain adalah bentuk yang lebih singkat (rekapitulasi, singkatan) dari prises perkembanganmakhluk yang bersangkutan mulai dari tingkat yang lebih sederhan sampai tingkat yang sempurna. Hal ini terbukti dari teori-teori yang dikemukakan Hall dimana ditemukan bahwa reaksi-reaksi yang di berikan oleh binatang satu sel sama dengan reaksi-reaksi sel0sel telur atau sperma pada manusia. Demikian juga reaksi-reaksi dari makhluk-makhluk bersel banyak sama dengan reaksi janin dengan jumlah sel yang kira-kira sama, dan demikian seterusnya. Karena itu disimpulkan bahwa perkembangan jiwa manusia secara perorangan sebenarnya adalah miniatur dari perkembangan jiwa manusia sebagai makhluk.
H.Gustave Le Bon (1841-1931)
Le Bon bukanlah murni sebagai psikoanalisis, tetapi pikirannya banyak sejalan dengan pikiran-pikiran psikoanalisa, hanya Le Bon lebih banyak membicarakannya dalam rangka tingkah laku kelompok daripada dalam tingkah laku perorangan. Sarjana berbangsa Prancis ini dilahirkan pada tanggal 7 Mei 1841 dan meninggal tanggal 15 Desebmber 1931.

3 komentar: