Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Mei 2011

menangislah kalau itu membuatmu lega

Akhir-akhir ini Azka sering melamun. Syarif memperhatikan adik satu-satunya itu sesekali memandang jauh kemana tak tentu arah. Demikian juga bunda, ia bertanya-tanya, ada apa gerangan dengan putrinya ini.

'Apa yang sedang engkau risaukan sayang...?'

Bunda cukup mengenal buah hatinya. Azka sedang ada suatu hal yang dipikirkan dengan sangat. Tak semua hal selalu disampaikan pada bunda, dan baginya tak semua hal mudah untuk dibagi. Pun bunda tak ingin memaksa putrinya itu untuk menceritakan permasalahannya padanya. Apapun itu. Tapi bila melihat keadaan putrinya seperti itu, bunda mana yang tidak akan kuatir.

Kemaren wali kelas Azka berkunjung ke rumah Azka dan menceritakan kondisi Azka yang beberapa ini dinilai kurang konsentrasi dan tidak memperhatikan penjelasan guru-gurunya. Raut mukanya juga terlihat sedih.

Malam itu Syarif mengunjungi kamar adiknya. Memang kamar ini selalu rapi, tapi kali ini terasa murung.

"Assalamualaikum" Syarif menyapa adiknya yang duduk bersandar pada kusen jendela.

"Waalaikum salam mas"

"adhe kenapa? ko kayaknya sedih gitu..."

"perasaan, mas udah ngembalikan boneka teddy adhe..."Syarif mencoba memancing komunikasi dengan adiknya.

hening. Azka tak berkata apapun. no reaction.

"hei...." Syarif tidak bisa lagi menutupi rasa sedih dan prihatinnya. Ia mengelus lengan adiknya, mencoba menguatkan.

"mas, bisa berbalik?"

syarif terkejut sejenak lalu membalikkan tubuhnya, membelakangi sang adik. Azka mendekap kakaknya dari belakang, tangisnya bagai tak terbendung lagi. tak hanya terisak, kini ia meraung.

Bunda terkejut dan segera menuju kamar Azka. Mendapati kedua anaknya disana, memandang Azka dan Syarif, bunda segera memeluk Azka.

"Sayang, kenapa...?" bunda tak lagi bisa menyimpan kecemasannya. Ia tak mau putrinya sakit lagi.

Syarif berbalik dan memandang adiknya yang bermuka basah. Sesak tiba-tiba menyumbat aliran nafasnya. 'Ya Allah, kuatkan adikku tersayang ini, lindungi ia Ya Rabb...'

setelah Azka cukup tenang, ia kembali tersenyum dan kemudian tertawa.

"ah, adhe ini terlalu ceria menutupi semua sedih hati adhe.... kenapa nggak berusaha berbagi?"

"Apa adhe nggak bisa percaya sama mas?"

Azka menggeleng. "Justru kalau Azka cerita, malah rasanya tambah sedih mas."

Syarif menggeleng. Kadang adiknya ini memang terlalu keras kepala.

"Bunda, apa Azka punya salah ya sama Deo? kalo Azka nyapa Deo, Deo nggak menjawabnya. Kalo Azka pingin bantu, Deo nggak menanggapi. Apa mungkin Azka terlalu mengganggu Deo ya bun?"

"Mungkin deo sedang sibuk. siapa tau dia juga sedang punya masalah. Bunda juga nggak tau."

"Azka sedih bunda. Deo sering seperti itu. Kenapa kalo seandainya Azka ini mengganggu Deo, Deo ko nggak bilang langsung sama Azka? Biar Azka tau, dimana salah Azka."

"Sayang, terkadang kamu ini terlalu peka pada orang lain, terlalu peduli. bisa jadi, Deo nggak marah ma Azka, tapi Azka pikir Deo marah sama Azka." bunda mencoba menghibur.

"Bunda tau nggak, Deo kayak gitu udah lama banget lho bun... Azka mencoba bersabar bun... tapi akhirnya Azka nggak tahan juga bun dibegituin."

Syarif menyimak cerita sang adik. dalam hati, kemarahan lahir secara perlahan. 'Deo, beraninya kamu berbuat begitu sama Azka!'

"emang udah berapa lama sih sayang?"

"Dua tahun, mungkin juga lebih bunda...."

Astaghfirullah. Ada apa ini? Apakah ini karena perbedaan karakter mereka? meski hanya berteman, Azka mengganggap teman-temannya sebagai saudara. Rasa sosialitas dan solidaritasnya cukup tinggi, padahal ia masih kecil. Kamu? apakah kamu pernah memperhatikan orang-orang disekitarmu? memperhatikan perasaan mereka? rasanya aku malu, aku hanya memperhatikan diriku sendiri....

bunda sedikit terkejut. menurutnya semua baik-baik saja. Azka juga selalu cerita tentang Deo, seolah tak ada masalah yang terjadi diantara mereka.

"Sayang, temen Azka kan nggak cuma Deo, banyak yang lainnya kan...? bunda nggak mau azka sakit karena terlalu memikirkan hal ini."

"gimana nggak kepikiran bunda...?"

"untuk sementara, Azka nggak usah mengusik Deo dulu. Azka simpan semua hal yang mengingatkan pada Deo. nanti juga semuanya akan baik-baik lagi." Bunda tersenyum, mencoba meyakinkan putrinya.

Syarif beranjak keluar kamar Azka. Bunda dan Azka berpandangan, heran. tak berapa lama kemudian ia kembali dengan sebuah kotak.

"Ayo mas bantu." Syarif menyemangati adiknya. Azka tersenyum dan menerima kotak yang disodorkan oleh kakanya. Azka mulai memilah pernak-pernik dikamarnya dan memasukkannya ke dalam kardus.

"Mas Syarif, bunda nggak mau mas buat masalah sama Deo. bunda nggak mau Azka tambah sedih." bunda mengingatkan putranya. ia tahu, Syarif sangat sayang pada adiknya itu. dan tentu saja ia takkan terima kalau ada yang membuat Azka sedih. Syarif memahami posisinya sebagai seorang kakak yang harus menjaga dan melindungi adiknya itu.



"semoga sedih itu segera menguap... dan tak tersisa."

Minggu, 17 April 2011

Kau Tak Pernah Memintaku..

oleh : ragil kuning

Kamis, 25 Mar '10 18:48

Kau tak pernah memintaku untuk menjadi pacarmu..

Saat itu, melalui pesan singkatmu kau hanya memperkenalkan dirimu dengan sangat sederhana. Tak banyak yang ku tahu tentang dirimu..



Dan saat itu pula, aku mulai merasakan getaran aneh dalam hatiku..



Semakin rajin kau menghubungiku, semakin aku terpesona dengan tutur bahasamu

Semakin tak kuasa melepaskan diri dari jerat cintamu..Meski kita belum pernah bertemu..



Aku hanya menerka-nerka bagaimana parasmu, seberapa tinggimu, apa warna kulitmu, bagaimana penampilanmu.. dan lagi-lagi..

Ah,, aku hanya bisa merangkai wajahmu dalam setiap malamku.

Tanpa ku tahu dirimu yang sebenarnya..



Tapi Allah Maha Tahu...



DIA memberiku sedikit gambaran bahwa kau pantas menjadi imamku..



Semakin aku mengenalmu, semakin besar rasa ingin tahuku tentangmu..



Dan yang lebih mengejutkanku.. ternyata kau telah bermunajat pada Sang Penggenggam hati..

DIA telah memberimu tanda bahwa akulah tulang rusukmu yang hilang..



Sungguh, tak kuasa aku bendung bulir bening dari kedua mataku..

Akhirnya.. perkenalan singkat itulah yang semakin membuat cinta kita bersemi..



Waktu yang menjawabnya..

Atas izin Allah, akhirnya kita bisa bertatap muka..

Melelehkan setumpuk gunung rindu yang telah kita kumpulkan..

Hatiku benar-benar berdesir dan mencair..

Malu-malu aku tatap wajahmu.. Aku temukan cinta di kedua matamu..



Ya Allah, benarkah dia yang akan menjadi imamku??



Pada pertemuan itulah kau mengajakku menghadap sang Khalik.. Menyerahkan cinta kita agar tetap dijagaNya.. dan menyerahkan hati kita agar diikatNya dengan benang merah hingga kita menua nanti..



Dan saat itulah.. tanpa kau minta, aku telah mengisi ruang di hatimu..

Dan kamu.. telah menjadi cahaya dalam setiap detik langkahku..



Tak Pernah kau minta aku jadi pacarmu.. sekalipun tak pernah..

Hingga tiga tahun aku menunggu kata itu,


Tetapi kau malah memintaku untuk menjadi penggenap dari setengah dienmu...


Oh..indahnya masa pacaran setelah pernikahan... ^_^


dari : http://ngerumpi.com/baca/2010/03/25/kau-tak-pernah-memintaku.html

Thanks to you sweet heart..

oleh ; rini bee

Senin, 2 Nov '09 18:29

Dari awal kita kenal, aku sudah sadar kita berbeda..
Aku di Jawa Timur.. kamu di Jawa Barat.. Aku suka kerjaan terjadwal.. kamu suka waktu yang fleksibel..
Semakin lama aku mengenalmu.. perbedaan semakin terlihat.. Aku ceriwis.. kamu pendiam.. :D
Kalo aku suka berlibur di pantai.. kamu lebih suka suasana pegunungan..
Kalo aku terbiasa dengan terik matahari.. kamu terbiasa dengan hawa dingin..
Saat aku suka es krim cokelat.. kamu lebih suka rasa strawberry..
Klo aku memilih puding sebagai dessert, kamu lebih memilih yogurt..
Saat aku suka makanan manis.. kamu suka makanan asin..
Klo aku memilih saus tomat sebagai teman kentang goreng, kamu suka saus sambal..

Aku terlahir dan dibesarkan di keluarga kecil, kamu dibesarkan dalam keluarga besar..
Kalo aku tidak rutin berolahraga, setiap minggu kamu mengejar bola.. :p
Di atas semua perbedaan itu.. kita tetap menjalaninya..
Dan memutuskan untuk bersama..

Perbedaan masih ada, tapi banyak hal yang kita cintai bersama..
Ketika kamu bermain bola, aku mencoba ikut menikmatinya..
Ketika aku mulai menikmati suasana pegunungan.. kamu mulai mencintai hangatnya mentari..
Ketika aku mencoba menikmati rasa asam dalam jus strawberry.. kamu menikmati manisnya milkshake coklat..

Dan kita semakin kaya dengan semua perbedaan yang ada..
Saat aku mendapatkan pendapat yang sama dari sahabat2ku tentang sebuah masalah.. denganmu aku mendapatkan wacana yang berbeda.. Kita justru membahas dari berbagai sudut pandang yang berbeda.
Perbedaan tidak menjauhkan aku darimu.. Tapi membuat kita semakin menghargai perbedaan..

Sekarang..
Makanan kesukaanmu masih asin di lidahku.. tapi kini aku punya "penawarnya"..
Saat panasnya terik mentari di kota Pahlawan terasa sedikit menyengat.. kamu juga punya "penawarnya".. :D


Si kecil yang gendut dan lincah yang membuat segala perbedaan yang ada bukan masalah besar bagi kami..
Dialah *Syifa Adya Salsabila... :D



catatan :
*Syifa = penawar


dari : http://ngerumpi.com/baca/2009/11/02/thanks-to-you-sweet-heart-d.html

AKU MARAH...

oleh : ragil kuning

Selasa, 23 Mar '10 17:32

Aku melihatmu duduk berdua dengan seorang wanita. Di meja itu, engkau mengobrol berdua.. ya, hanya berdua.. Aku cemburu. Apalagi wanita itu sangat cantik. Dengan rambut hitam digerai sebahu dan pakaian modisnya, tak aneh jika kau tertarik padanya.

Dia memang cantik. Tak seperti diriku yang sederhana ini.



Aku lihat tatapan matamu juga berbeda terhadap wanita itu. Tatapan itu sangat hangat, tak sehangat ketika kau menatapku. Senyummu.. ya, senyummu itu juga terlalu manis untuk kau berikan pada wanita lain. Wanita yang bukan istrimu. Sedangkan aku, tak sekalipun pernah mendapatkan senyum manismu.



Ohh, ternyata waktu tak membiarkanmu diam. Tanganmu mulai menggenggam jari jemarinya yang halus dan putih itu. Kau alirkan segala hasrat dan cintamu lewat genggaman itu. Dan dia.. dia begitu menikmati kemesraan yang kau tawarkan.



Sayang, kemana kau selama ini ketika aku butuh semua itu? Kemana hasrat dan cintamu padaku? Sudah leburkah dan tergantikan oleh hasrat dan cintamu pada wanita itu? Sungguh, tak kuasa aku melihatmu berlama-lama memandang wajahnya yang ayu. Hatiku terbakar, sayang.. Telah kau kobarkan api cemburu di dadaku ini.



Lalu.. untuk apa aku masih di sini? Menatapmu bermesra-mesraan dengan wanita yang tak seharusnya merebut hatimu dariku. Aku sudah tidak tahan, sayang.. Ingin aku jambak rambut wanita ayumu itu, ingin aku cakar-cakar wajah mulusnya. Ingin aku teriaki dia bahwa kamu hanyalah milikku..



Aku datang sayang.. datang dengan segala rasa marah dan emosiku. Datang dengan segala kekecewaanku padamu. Datang ingin mencabik-cabik tubuh wanita ayumu.. Aku dengan segala rasa cemburuku..



Aku melihat ketakutan di matamu saat aku menghampiri tempat duduk kalian. Jangan salahkan aku sayang kalau malam ini aku menjadi iblis yang akan menghancurkan cinta kalian. Semua ini salahmu, semua ini karena kecuranganmu membohongi hatiku. Jangan mencoba menghalangiku dengan wajah melasmu, sayang.. karena aku akan melakukan semua ini demi mempertahankan cinta kita.



Tak sabar aku ingin melihat kehancuran wanitamu.. semakin dekat..semakin dekat langkahku menuju wanita itu. Dan, ahhhhhhhhhh.. adzan subuh membangunkanku.. Oh, ternyata aku sedang bermimpi. Aku pandangi sosok lelaki di sampingku. Tidurnya begitu pulas. Dalam hati aku merasa lega.. Ya Allah, jangan sekalipun Engkau biarkan kejadian buruk dalam mimpiku tadi menjadi kenyataan. Aku tak sanggup berpisah dengan lelaki yang sangat aku cintai ini..



Ku kecup kening suamiku, berharap dia merasakan getaran cinta ini. Getaran cinta yang masih sama seperti dulu, saat kami masih sama-sama dimabuk asmara. Dan getaran itu, tak kan pernah luntur.



“ Selamat pagi sayang, ayo sholat subuh bersama... “



dari : http://ngerumpi.com/baca/2010/03/23/aku-marah.html

Jika membahagiamu...

oleh : cheera

Senin, 16 Nov '09 14:22

Jika membahagiakanmu berarti aku harus berubah, aku akan melakukannya. Ini berarti aku mencintaimu. Namun membuatku berubah apakah itu berarti bahwa kamu mencintaiku? dulu kamu pernah bilang mencintaiku apa adanya.



Jika tidak menyentuhmu itu membahagiakanmu, aku akan melakukannya. Ini karena aku menyayangimu. Namun itukah sebuah pernikahan, larangan menyentuh?



Jika kamu bahagia aku tidak mengganggumu, aku akan melakukannya. Ini karena aku peduli padamu. Namun bukankah mengajakmu bercengkerama dengan bayi dikandunganku itu juga akan membuatmu bahagia? ternyata aku salah karena aku hanya mengganggu tidurmu, katamu



Lalu apa yang akan terjadi dengan pernikahan kita jika aku tidak boleh menyentuhmu dan mengganggumu.



Bagaimana bisa dua orang yang disahkan dalam pernikahan bisa tidak saling menyentuh.

Bagaimana bisa aku tidak mengganggumu jika aku perlu mengatakan sesuatu padamu.

Bagaimana bisa kau mengatakan kau mencintaimu apa adanya jika kau memaksaku berubah.



Dan ketika aku bilang I love u di sms kamu biasanya juga membalas I luv u 2, dan saat ini sepertinya kamu sengaja tidak melakukannya. You do it intentionally. Kamu yang mulai menyalakan bara. Kamu yang mulai membuat masalah kecil menjadi masalah yang sangat besar. Aku yang sudah mencoba memperbaiki semuanya namun kau tolak mentah-mentah. I hate it so much.

Really... I mean it


note: my first post in ngerumpi (after a very long time as a silent reader ^ _^). semoga berkenan. salam kenal semua



dari : http://ngerumpi.com/baca/2009/11/16/jika-membahagiamu.html

Di Tengah Rintik Hujan …

oleh : Omiyan

Jumat, 15 Jan '10 13:48



" Tempe goreng, tahu hangat bu ...... tempe goreng, tahu hangat bu ...... "

Ucapan itu keluar dari seorang ibu yang terlihat kurus dan mukanya cukup letih setelah berkeliling komplek perumahan tempat dia tinggal. Jualannya hari ini cukup lumayan walau untungnya tak seberapa tapi dengan penuh kesabaran si Ibu tersebut tetap bisa menikmati hasil jualannya tersebut.

Mamah Putri adalah panggilan si ibu tersebut karena kebetulan anaknya yang bungsu bernama putri sehingga tetangga di komplek memanggilnya Mamah Putri , tempat dia tinggal sosok Mamah Putri adalah sosok yang begitu tekun dan sabar dalam mencari nafkah tak pernah mengeluh atau sengaja meminjam uang hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga karena buat Mamah Putri berdagang adalah cara terbaik dalam menutupi segala kekurangannya.

Diusianya yang masih 40 tahunan Mamah Putri terlihat lebih tua dari usianya mungkin karena faktor beban ekonomi yang dirasa cukup berat dan kerja kerasnya yang terkadang harus memicingkan mata hingga tengah malam.

Sosok yang tegar pantang mengumbar kekurangan demi mengharapkan belas kasihan tergambar ketika ada tetangga menawarkan bantuan yaitu ingin membantu dengan sebuah gerobak yang kebetulan tidak dipakai oleh tetangga tersebut, tapi Mamah Putri cukup halus menjawab atas penolakannya tersebut.

" Makasih om, mending muter keliling komplek lebih cepet laku daripada nunggu pembeli dateng "

Jika dipikir-pikir bener juga ucapan Mamah Putri tersebut, beliau lebih memilih jemput bola daripada menjadi penjaga gawang kepastian laku tidaknya lebih jelas.

Rasa lelah yang dialami Beliau terkadang diabaikan ketika pagi hari belanja untuk menyiapkan makan buat anak-anaknya dan ibunya langsung beliau melakukan pekerjaan rutinnya yaitu berdagang di sekitar komplek, siangnya beliau belanja dan tengah malam mempersiapkan adonan gorengan untuk bisa dimasak pada pagi harinya. Pekerjaan membuat adonan terkadang menyita waktu tidurnya bahkan bisa dibilang waktu tidur Mamah Putri sangat sedikit.

Suatu hari Mamah Putri sempat mengatakan jika penglihatannya seperti ada kotoran atau setiap arah dia memandang seolah-olah ada benda yang menempel ...

" Teu mata saya kok seperti ada yang kotoran ya ... " kata Mamah Putri kepada Mamah Bunga salah satu tentangganya.

" Mungkin kotoran Mamah Putri, coba pake obat mata atau periksa ke dokter " kata Mamah Bunga.

" Ya juga ya " kata Mamah Putri lagi.

" Atau kalau ga entar saya ke rumah ada makanan yang bagus buat mata nanti dimasak terus airnya diminum ya, " timpal Mamah Bunga.

" Ohh makasih teu " Jawab Mamah Putri.

Namun setelah memasak dan memakan pemberian dari Mamah Bunga ternyata kondisi mata Mamah Putri tetap saja dan akhirnya Beliau memaksakan diri untuk memeriksakan matanya tersebut dan ternyata hasil pemeriksaan dari Dokter cukup mengejutkan....ya ternyata mata Mamah Putri mengalami kerusakan yang diakibatkan karena seringnya menahan rasa kantuk dimalam hari mungkin karena beliau keseringan ingin menyelesaikan adonan buat besok harinya sehingga rasa kantuk yang tak tertahankan selalu diabaikannya dan hasil yang mengejutkan lagi kerusakan tersebut sudah cukup parah dan bisa berakibat fatal yaitu matanya akan mengalami kebutaan.

Walau sudah mengetahui hasil pemeriksaan dokter tersebut tapi Mamah Putri tetap dengan rutinitasnya, ya sosok Mamah Putri memang pantas menjadi seorang ibu yang teladan ditengah dera penyakit matanya yang kini mulai menggerogoti penglihatannya tetap saja berjualan, mungkin anak atau suaminya tidak mengetahui penyakit yang kini tengah dia derita ... tapi buatnya penyakit bukanlah halangan dalam mencari nafkah demi membantu suaminya.

Suatu hari sekitar pukul 6 pagi, disaat cuaca agak gelap dan terasa dingin karena subuhnya abis diguyur hujan deras dan rintik hujanpun masih terasa, sosok Mamah Putri terlihat sedang berjalan membawa bakul dagangannya ....

" Tempe goreng, tahu hangat bu ...... tempe goreng, tahu hangat bu ...... "


dari : http://ngerumpi.com/baca/2010/01/15/di-tengah-rintik-hujan.html

Hayyaaahhh Owe Cinta Haa ....

oleh : Omiyan

Jumat, 8 Jan '10 15:27



Kalau dipikir-pikir seharusnya saya sudah bisa bahkan mahir bahasa mandarin setidaknya alias minimal bahasa hokian soalnya saya sudah kenal istri hampir 10 tahun, dan Alhamdulillahnya sampai sekarang bayangin aja cuman beberapa kalimat yang saya ngerti itu pun terkadang pakai bahasa bikinin saya sendiri yang terkadang saya sendiri yang ngucapin kagak ngerti apa maksudnya.

Pernah waktu saya lagi diklat di jakarta sengaja jalan-jalan ke Mall nyari kamus bahasa mandarin dan Alhamdulillah ketika balik ke rumah tuh buku belum sempet ta baca dan sekarang kagak tahu kemana hahahaha.

Pernah sih suatu waktu saya minta diajarin ke sitri untuk beberapa kata atau kalimat yang sifatnya umum alias biasa dipake buat keseharian tapi keukeuh latah sunda saya kagka mampu ngikutin apa yang diajarin ujung-ujungnya saya cuman bisa bilang ...

Hayahhhhhhh ..... owe cinta haa ma ai .... hayyaahhhhhh

Saya bingung sendiri apa emang saya ga ada bakat atau emang terlalu malas untuk mempelajari suatu bahasa padahal ini adalah sebuah kesempatan soalnya tempat saya bekerja secara tidak langsung berhubungan dengan warga keturunan, nah lain hal dengan anak saya yang ternyata ngerti kalau lagi diomongin atau pas ngobrol ma istri saya pake bahasa hokian, salah satu contoh yang sering saya dengar dari mereka yaitu ...

Ni Ai Mamah ha ...... (maksudnya Sayang mamah ga)

Sudah pasti bunga anggukin kepala .....

Terus kalau ditanya ma saya pake bahasa ibunya juga...

Ni Ai Papah ha ...... (maksudnya Sayang papah ga)

Dan bunga sama menganggukan kepala, tapi akan lain hal kalau saya tanya pake bahasa Indonesia

Bunga sayang ga ma ayah ...

Dan jawaban bunga adalah ...

Ga ..... ga sayang ...

Lho kenapa na ...

Ayah jelek ......

Gubraakkkkkkkkkkk ....hayyahhhh jelek jelek gini mamahmu keppincut sama ayah hayyaahhhhh .. hhmmm sepertinya nanya bunga mending pake bahasa ibunya hahahahha.


dari : http://ngerumpi.com/baca/2010/01/08/hayyaaahhh-owe-cinta-haa.html

Pernikahan tanpa dasar cinta...

oleh : Lycoris

Senin, 22 Mar '10 08:02

Sharing dari tumpukan artikel di komputer :) Semoga bermanfaat ^^

Beberapa waktu lalu di sebuah situs net, sempat saya baca sebuah lelucon anak-anak.

Seorang gadis kecil pada ibunya: "bu, mengapa pengantin wanitanya mengenakan busana putih?"

Sang ibu menjawab : "sebab putih adalah yang mewakili kebahagiaan! hari ini adalah hari paling bahagia bagi pengantin wanita seumur hidupnya."

Gadis cilik itu merenung sejenak, lalu bertanya lagi: "tapi kenapa busana pengantin pria itu warnanya hitam?"

Mungkin setelah membaca lelucon ini, cukup banyak hati laki-laki yang sudah menikah memahaminya!

"menikah dan cinta sejati merupakan dua hal yang berbeda." Begitu yang pernah saya dengar dari banyak kaum laki-laki. Nah lho :p


Ada sebuah cerita yang merupakan bukti lain dari pendapat demikian.

Socrates & Plato

Suatu hari, Plato bertanya pada gurunya, Socrates, "apa itu cinta?" Sebelum menjawab, gurunya meminta Plato memetik sebulir gandum dulu di ladang gandum. Tapi hanya boleh memetik sekali dan berjalan ke depan, tidak boleh menoleh.

Plato lalu mengikuti petunjuk gurunya, namun akhirnya ia keluar dari ladang gandum tanpa hasil. Sang guru bertanya kenapa tidak berhasil memetik bulir gandum itu, Plato pun berkata: "sebab hanya boleh memetik sekali, tidak boleh menoleh. Meski mendapati bulir yang besar dan kuning keemasan, namun karena berpikir mungkin ada yang lebih baik lagi di depan, karena itu tidak memetiknya. Ketika berjalan ke depan, saya melihat selalu tidak lebih bagus dari sebelumnya....ternyata bulir gandum yang paling besar dan kuning keemasan di ladang itu, telah di sia-siakannya, sehingga akibatnya sebulir gandum apa pun tidak terpetik."

Sang guru berkata : "inilah cinta."

Suatu hari sesudah itu, Plato bertanya pada gurunya, "apa itu pernikahan?" lalu sang guru menyuruhnya pergi dulu ke hutan, menebang sebuah pohon paling tinggi dan besar serta lebat di antara semua pohon. Dan sama seperti di atas hanya boleh menebang sekali, juga hanya boleh berjalan ke depan dan tidak boleh menoleh.

Plato lalu melakukan sesuai dengan petunjuk gurunya. Kali ini, ia membawa pulang sebatang pohon biasa, tidak lebat tapi lumayan bagus. Guru bertanya padanya, kenapa membawa pohon yang biasa-biasa saja? Plato berkata: "dengan adanya pengalaman tempo hari, dimana ketika setengah perjalanan di hutan masih tidak ada hasil, saya melihat pohon ini dan lumayan bagus kemudian saya tebang, agar jangan sampai terlewatkan."

Sang guru lalu berkata: "inilah pernikahan."

Banyak di antara mereka yang punya pandangan bahwa "perkawinan dan cinta sejati merupakan dua hal yang sama sekali berbeda". Karena tidak sedikit orang yang menikah dengan seorang pasangan yang tidak mencintainya dengan tulus, maka terjadilah angka perceraian yang begitu tinggi dan keluarga yang berantakan.

"Jika tidak cinta, lalu bagaimana keduanya menghadapi tantangan hidup yang berat? dan jika tidak saling mencintai, dari mana datangnya kesabaran dan toleransi? Jika tidak cinta, tapi hidup dalam satu atap, dan tidur di ranjang yang sama setiap hari, bukankah ini suatu siksaan batin?"

Hidup bersama tapi bermimpi lain sudah pasti merupakan suatu siksaan. Bahkan ada yang merasa perkawinan tidak ada hubungannya dengan cinta, cukup banyak laki-laki yang menganggap bahwa hakekat perkawinan hanya untuk meneruskan keturunan yang sah.

Bukan saja kaum jomblo, bahkan jumlah kaum yang takut kawin juga terus meningkat. Dan mereka yang ingin menikah tapi trauma dengan perkawinan sebelumnya juga semakin banyak. Jika anda menguatkan nilai perkawinan, dan tengah berencana melangkah ke tirai merah perkawinan, apakah pasangan yang dipilih itu adalah teman hidup yang jujur, dapat dipercaya, dan pendapatan yang stabil, lebih baik anda memfokuskan diri meneliti apa sebenarnya perkawinan itu di mata teman hidup anda?

Saya bukan kaum idealis, juga tidak terlalu naif, justru karena mendengar terlalu banyak pemikiran dari sisi negatif terhadap perkawinan, juga terlalu banyak melihat akibat buruk yang disebabkan pikiran negatif, barulah saya kemukakan nasihat ini,

"jika tidak cinta jangan sekali-kali menikah".

Bukan setiap perkawinan berasal dari keinginan membuktikan cinta, didalamnya juga bercampur dengan berbagai faktor. Sudah sewajarnya perkawinan itu ada kemungkinan untuk melahirkan anak (keturunan), kepentingan ekonomi dan sebagainya, bahkan ada suami istri yang terus terang mengatakan "nikmati keinginan masing-masing saja". Namun kehidupan suami istri dapat membohongi orang lain, tapi tidak dapat menipu diri sendiri. Jika tidak bisa seperti sepasang sumpit, berat sepikul ringan sejinjing, mengecap pahit dan manis bersama, tapi hanya sebuah nama saja dalam kolom pasangan di KTP, adalah perkawinan yang tidak tahan ujian apa pun.

Ada seorang rekan laki-laki, dimana demi untuk merawat istrinya yang mengidap penyakit lupus erythema (kemerahan pada kulit), tiba-tiba memutuskan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai PNS eksekutif. Menjadi pekerja freelance dan mulai dari awal, agar memudahkan dirinya menemani sang istri ke rumah sakit untuk mencuci ginjal setiap senen, rabu dan Jum'at.

Setiap perkawinan perlu mengalami ujian, jika tidak menggenggam erat satu sama lain, pasti tidak akan dapat menerjangnya. Di zaman ini, perkawinan tanpa dasar cinta, pasti akan tragis, juga sulit sekali bisa menjalaninya hingga kakek-nenek!

"Perkawinan mungkin agak kurang romantis, namun justru karena belajar memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani pasangan, sehingga membuat hidup lebih padat, sempurna. Sekali lagi saya ingatkan: "Jangan menikah, jika tidak cinta!"

NB : postingan untuk yang lagi gundah untuk menikah, dan untuk warga ngerumpi lainnya :D *sok tahu*



dari : http://ngerumpi.com/baca/2010/03/22/pernikahan-tanpa-dasar-cinta.html

Ajari saya cemburu

oleh : sorehari

Rabu, 31 Mar '10 09:52

entah, setelah menikah dengan suami saya selama 4 tahun, saya nyaris tidak pernah ada perasaan cemburu. kalau sahabat2 saya yang menikah atau masih pacaran, selaluuuuu curhatnya tentang cemburu dengan suaminya. cemburunya macam-macam, yang pasti cemburu sama wanita atau pria lain yang lebih saya sering temui.

kenapa saya tidak ya? padahal duluuuuu jaman saya pacaran sama mantan pacar2 lain [dan jaman saya pacaran sama suami saya] saya disebut "kompor mleduk" sama teman-teman saya karena gampang banget cemberut perihal pacar tidak sms, pacar tidak telpon atau telat jemput. belum lagi "tuduhan" api asmara *alah* dengan perempuan lain yang saya lemparkan buat pasangan.

setelah menikah, saya bisa hitung berapa kali cemburu. pertama, waktu saya hamil 6 bulan, mantan pacar saya meliput suatu kecelakaan, si mantan tampil di TV, suami saya [bagi saya saat itu] mlototi layar sedemikan rupa dan membuat saya mematikan TV hehehehe.

cemburu kedua, di umur 2 taun pernikahan, dengna anak baru di kantor suami. Waktu saya liat profile di FB suami, bikin saya ketar ketir, soalnya si anak ini langsung disupervisi suami. dikit-dikit saya telpon suami tanya kemana, sama si B-nama anak baru- apa gak. hihihhi.. tapi pas ketemuan sama B, ah, cantikan dan pinteran juga saya :D

Nah, kayaknya dua cemburu itu saja deh. lainnya saya mulai berpikir, suami di luar milik orang lain, suami di rumah baru jadi milik saya. dan saya bukan tipikal istri yang buka2 email atau fb atau telpon suami saya. meski saya tahu passwordnya, saya tidak tertarik.

padahal, cemburu itu perlu. untuk memerciki api asmara. cemburu itu perlu sebagai selingan di rumah tangga untuk meningkatkan gairah asmara *haiyah*. meski, kalau dirasa, perasaan, permainan cinta [ups] tidak berubah well cenderung stagnant sih., lempeng lah. bahkan, saya tidak punya perasaan marah, atau curiga kalau suami tiba2 memutuskan ganti jadwal atau tiba2 main futsal kemana.

segitu besarnya kah toleransi saya? atau saya sakit jiwa?

masa saya harus ke desa Armorik untuk mempelajari perasaan cemburu, berguru pada Asterix dan Obelix*)



Ajari saya dong..

Alasan Dia Memilih Saya

oleh : Omiyan

Rabu, 13 Jan '10 13:18

Kalau orang menanyakan saya kenapa memilih khalisan sebagai istri saya pastinya sebelum saya jawab orang lain akan bilang ...

" Pastinya omiyan mau perbaiki keturunan ya, kan dia putih hehehehe..."

Kalau udah begitu saya ga bisa ngomong apalagi kenyataan dilapangan emang begitu, tapi kalau kebalikannya akan lain.

Nah disuatu hari seperti biasa ketika abis melepas penat setelah seharian kerja, seperti biasa kami tiduran dikamar sambil memandang langit-langit kamar dan saat itu saya bertanya pada istri

" Yank...kok kamu mau sich ma aa ..."

" Mau tahu kenapa " tanya istriku balik

" Ya Iyalah kan penting setidaknya buat pegangan hhahaha... " Selorohku

" Karena aa item " Jawab istriku

Glek aku cuman diem sembari pengen ketawa ...

" Kok bisa sih " tanya aku lagi

" Ya ga tahu kenapa aku lebih suka cowok kulit item terlihat seksi dan jantan gitu lho ... " Jawabnya (entah jujur etah tidak heheheh).

" Hhhmm kok bisa ya padahal pikiran aa selama ini wanita berkulit putih pastinya akan selalu memilih pria yang berkulit putih karena konotasi kulit putih kan bersih tapi kenyataan lain juga ya "....

Nah terkadang ketika aku lagi dijalan pas lagi berdua bareng istri atau tidak adakalanya aku nyaksiin pasangan lain yang emang kondisinya persis ma aku dimana ceweknya cantik putih mulus dan lakinya biasa biasa aja, dan kadang aku berpikir apa ga salah mata tuh cewek heheeh tapi atau bisa jadi seorang wanita adakalanya memilih seseorang tidak hanya fisik semata tapi kepribadiannya atau bisa jadi cowok tersebut tajir, apalagi jaman sekarang siapa sich yang ga mau cowok tajir masalah lain bisa nomor sekian.

Terlepas itu semua emang krisi kurang percaya diri banyak melanda cowok yang berkulit sawo mateng alias item manis, adakalanya keinginan untuk supaya kulitnya putihlah atau hidungnya mancung lah dan biasanya segala hal akan dilakuin. Tapi kalau dipikir pikir tak selamanya apa yang kita pikirkan tentang sesuatu hal terutama pasangan yang ingin kita cari akan sama dengan kenyataan dilapangan.

Dulu sempet saya bercita-cita mempunyai istri yang berjilbab dengan kondisi seiman dari awal tapi justru Tuhan berkehendak lain begitu juga dalam mengarungi kehidupan setelahnya banyak orang beranggapan bahwa kondisi pernikahan kami akan seumur jagung karena didasarkan oleh adat, budaya, pola pikir dan pandangan yang berbeda terutama dengan keluarga istri.

Justru saya bersyukur ditengah perbedaan yang ada kami bisa menemukan sebuah persamaan hidup ya .... rasa saling memiliki, mengasihi dan mencintai adalah modal kami berdua ....

Dan kini perbedaan itu justru sebagai kekuatan untuk menapaki masa yang akan datang ...




dari : http://ngerumpi.com/baca/2010/01/13/alasan-dia-memilih-saya.html

Aku Cemburu ....

oleh : Omiyan

Kamis, 14 Jan '10 12:21



Ternyata rasa cemburu itu masih ada walau kita sudah menikah sekalipun apalagi ketika jaman pacaran wah itu mah jangan ditanya deh, hal sekecil apapun kalau pas lagi cemburu bisa memicu serangan jantung eh maksudnya kemarahan.

Dan ternyata itu juga terjadi ma diri saya dan istri, padahal awalnya dipicu oleh ucapan saya sendiri ketika mengomentari seorang artis ketika kita lagi asyik menonton TV, jujur saya memuji tuh artis ga niatan satupun buat manas-manasin istri itu hanya ucapan spontan, tapi ternyata lain tanggapan istri.

Ucapan saya singkat yaitu ....

" ... hhmm ternyata tuh artis masih cakep aja sampai sekarang ..."

Kalimat yang sederhana menurut saya hehehe ternyata lain apa yang ada dibenak istri, dan dia menanggapinya dengan sebuah pertanyaan sekaligus pernyataan ...

" Cakepan mana ma aku ... aa tuh ya ..."

Saya sich ga nanggepin atas perntanyaan sekaligus pernyataan istri tersebut.

Disuatu hari ketika saya dan istri sedang berbelanja kebutuhan bulanan di suatu Mall di Serang, nah saat itu pas lagi jalan kebetulan perhatian saya sich lagi merhatiin barang yang ingin saya cari, eh tiba-tiba istri berkata ...

" Wuiihh A, ganteng banget tuh cowok ..."

Hhmm tahukah saudara-saudara sekalian apa yang ada dalam pikiran dan hati saat itu , gggrrrrr puanas banget bagaikan es yang dipanasi api 100000% hehehehehehe ingin rasanya marah saat itu tapi ta tahan karena emang benar ada cowok ganteng (menurut saya JELEKKKKK) depan mata saya persisi dan saya cuman bilang ...

" Mau disamperin ga, ntar ta bilangin kalau kamu suka .." kata saya dengan ketus. " Ga ah ngapain juga, mangkanya aa tuh ngertiin aku ya " jawab istri sembari senyum simpul.

Saya sich bisa ngerti maksud istri begitu tapi yang jadi masalahnya kenapa ngucapin itu dengan wujud orangnya ada tepat depan saya persis, wuiihh sebagai lelaki sejati halahhh hahhaha ingin rasanya mendamprat laki laki yang tak berdosa itu kenapa musti ada tepat didepan mata saya udah gitu putih lagi (tapi masih mendingan saya iteman dikit saya lho heheheh).

Kalau dipikir-pikir .. ya juga ya..kalau digituin kita sebagai cowok juga ga bakalan terima, mungkin disini perlunya kita "Ngaca Diri" sebelum berbuat atau terucap, ingat dulu pantas pa enggak ada yang dirugiin apa tidak.

Mungkin istri ingin mengimpaskan kedudukan jadi 1:1, tapi buat saya ini adalah 3:1 hahahahaha tapi itulah realitas hidup ternyata mengenal dirinya yang udah hampir 10 tahun tetap aja cemburu, padahal dalam setiap kesempatan apalagi jelang "bobo" dia suka berkata :

" Tahu ga sih a, aa tuh ganteng, cakep, manis lagi .... tahu kenapa ya kalau suka banget deket-deket ma aa ..... "

Ah kalau dah gitu aku cuma bisa bilang ....

" .... SIAAAPPP MANGGGG "

Hehehehehe

Ketika Ibu Melepaskan Anaknya..

oleh : chiil

Rabu, 6 Apr '11 11:09

"Kenapa sih anak-anak cewek sering dilarang pergi jauh-jauh sama ibunya?"

"Ga juga. Aku boleh tuh pergi ke luar pulau Jawa, bahkan ke luar negeri, sendirian. Yang penting jelas tujuannya apa."

"Oh gitu ya, berarti kamu ga disayang ibumu ya?"

"....."


dari : http://ngerumpi.com/baca/2011/04/06/ketika-ibu-melepaskan-anaknya.html





Yak, kesimpulan sotoy teman saya berhasil membuat saya jedukin kepalanya ke tembok. *wogh brutal*

Saya jadi mikir, sebenernya kenapa yaa kebanyakan ibu tidak rela anaknya -terutama yang perempuan- pergi jauh dari rumah, dalam waktu lama. Kuliah, misalnya. Pernah seorang teman cerita, dia lumayan 'dikekang' sama ibunya. Jadi si ibu ga mau jauh-jauh dari dia, bahkan sampai melarang keras si anak kuliah di Jogja. Padahal rumahnya di..... Solo.

*ngitung jarak Jogja-Solo pake penggaris segitiga*



Lain lagi cerita seorang teman yang ga boleh kerja di luar kota/pulau karena kakaknya sudah di luar Jawa. Jadi karena mereka hanya 2 bersaudara, kalau salah 1 sudah pergi dari rumah, lainnya harus di rumah, alias kerja di kota dimana orangtuanya tinggal.

Entah bagaimana, orang tua saya kok sepertinya rela-rela saja saya dan si adek pergi jauh. Padahal semua anaknya cewe lho. Cantik lagi. Kata ibu, kami harus pergi sejauh-jauhnya, berjuang mencari pengalaman, pembelajaran, dan yang paling penting, kami harus berkembang.

Tapi... Apa ibu ga cemas anaknya pergi jauh?

"Sebenernya yang ibumu cemaskan itu persediaan nasi di dalam rice coo.. *PLAKKK!!*"

Oke, sedikit gaplokan buat temen saya yang riwil.

Menurut ibu, Jogja adalah tempat ternyaman. Segalanya ada (kecuali Sushi Tei), murah pulak (oke, untung ga ada Sushi Tei). Orang-orangnya pun menyenangkan. Berada di Jogja, rasanya semuanya selooowww, santaiii, tanpa beban. Ibu merasa segala kenyamanan ini melenakan, bahkan bisa jadi akan membuat saya -yang masih muda ini- berhenti berkembang. Walau nyatanya saya makin berkembang.... ke samping. *membal*

Nah suatu ketika, Syn ngasih lagu ini buat saya. Fly Away - Corrinne May, tentang seorang ibu yang akan melepas anaknya pergi.



And now to let me go, I know she bleeds

and yet she says to me



"You can fly so high

Keep your gaze upon the sky

I'll be praying every step along the way

Even though it breaks my heart to know we'll be so far apart

I love you too much to make you stay

Baby fly away"



Bagi seorang ibu, akan selalu berat untuk melepas anak-anaknya pergi, tidak peduli laki-laki atau perempuan, tidak peduli berapa usia si anak. Namun kata ibu saya, ketika harus melepaskan anaknya, seorang ibu harus pula melepaskan egonya.

Tapi bagaimana caranya?

Pertanyaan itu terjawab ketika tanpa sengaja saya mendengar suara ibu yang sedang berdoa bersama ayah.



"... peganglah tangannya, Tuhan, ketika kami harus melepaskannya."

Suamiku menikah lagi

oleh : venus

Jumat, 5 Jun '09 14:28

"Suamiku menikah lagi. Ini bukan lagi sekadar gosip miring di antara teman-teman kami berdua, bukan lagi kecurigaan atau imbas rasa cemburu berlebihan, tapi pengakuan yang keluar dari mulut suamiku sendiri. Dan malam itu, langit serasa runtuh menimpa kepala."

"I gave him everything. I gave him my youth, I gave him wonderful children, I quit my job just because he asked me to, and now this. This. Can you believe it?", dengan berapi-api seorang sahabat, teman berbagi yang kukenal semenjak kami sama-sama kuliah di Surabaya dulu menumpahkan semua amarah dan sakit hatinya lewat telepon di suatu siang yang terik.

Saya speechless, tak tau harus berkata apa. Bahkan sekadar menyatakan rasa prihatin saya saja rasanya berat sekali. Apa yang harus saya katakan kepadanya, perempuan yang tetap cantik di usianya yang tak lagi muda itu, yang selama belasan tahun menjadi teman berbagi saat kami berdua mengalami naik dan turun dan pasang surut dalam kehidupan kami masing-masing?

Dunia runtuh di atas kepala.

Tidak berlebihan saya rasa, karena saya juga perempuan. Saya tak sanggup membayangkan bagaimana berantakan dan hancurnya perasaan teman baik saya ini ketika mendengar pengakuan suaminya. Laki-laki itu, kepada siapa hidupnya telah diserahkan penuh, bulat-bulat, bukan hanya satu atau dua tahun tetapi sudah hampir dua puluh tahun sekarang, ayah dari ketiga anak-anaknya, berkali-kali meminta maaf dan menyatakan penyesalan tak habis-habis. Dia barangkali memang menyesal, tapi apalah artinya. Hidup mereka tak akan pernah sama lagi. Sejak malam itu, menurut pengakuan sahabat saya, mereka berdua tinggal bersama, serumah, tapi semua terasa jauh berbeda. Tak pernah ada lagi obrolan mesra tengah malam saat anak-anak sudah lelap tertidur, bahkan boleh dibilang komunikasi di antara mereka berdua hanya basa basi dan saling menjaga perasaan masing-masing saja.

"Aku harus bagaimana ya, Nadya? Pengennya sih berani mengambil sikap yang lebih tegas. Minta cerai, misalnya. Tapi aku harus mikirin anak-anak. Harus mikirin bagaimana aku harus menyambung hidup. kamu tau, kan...sudah belasan tahun aku terkondisi berada dalam zona nyaman: status sebagai istri dan ibu, keadaan finansial kami yang mapan, pengen apa tinggal beli, butuh apa tinggal bilang sama suami dan boom, semua tersedia. Apa yang harus kulakukan sekarang?", Airin, sahabat saya itu, masih sibuk menyeka air mata.

Dalam diam, saya hanya bisa memeluknya.

dari : http://ngerumpi.com/baca/2009/06/05/suamiku-menikah-lagi.html

Aku sayang kamu (Dulu dan Sekarang Lain)

oleh : Omiyan

Rabu, 12 Agu '09 13:21

Duh ampun untuk urusan masalah romantis saya ngaku deh selalu kalah dari bini, mungkin karena buat seorang pria bukan masalah kata-kata dalam mengungkapkan romantisme tapi lebih kepada perbuatan itu sendiri tapi buat seorang perempuan terutama sang istri biasanya malah lain, dia nuntu dua-duanya bisa didapatkan sekaligus bukan hanya lewat perbuatan tapi kata-kata itu penting banget.

Kalau permintaan kata-kata semacam "Aku sayang kamu" atau "Aku Cinta kamu" sesuai tempatnya mungkin masih bisa diterima, tapi duh pas mau tidur aja istri tercinta selalu menghampiri kemudian mengajukan sebuah pertanyaan...

dari : http://ngerumpi.com/baca/2009/08/12/aku-sayang-kamu-dulu-dan-sekarang-lain.html

"A Sayang aku ga...?", terkadang pas baru bangun tidur pas dikasih minum segelas air putih pasti pertanyaan itu muncul hehehe dan biasanya saya diam terus menggeleng, nah kalau begitu maka istripun makin mendekat dan bertanya dengan amta terbelalak.."Sayang ga ma aku.." duh daripada nanti ga dikasih hehehdengan sigap saya katakan... "ya sayangku, cintaku.."

Tapi saya akuin, walau hanya sebatas ucapan to tapi begitu besar maknanya dalam menjaga keromantisan suami istri bahkan jika kita melihat orang yang sudah menikah lama tapi ketika berjalan dikeramaian selalu bergandengan tangan rasanya gimana gitu kita meilhatnya mereka pasangan yang bahagia, dan betul kata orang tua dulu memberikan kebahagiaan ga melulu materi dengan kata-kata pun bisa membuat seseorang bahagia.

Diantara kemudahan dalam memperjuangkan dan mendapatkan cinta maka yang susah adalah mempertahankannya karena saya akuin sendiri kalau ga kuat-kuat iman behhh...yang namanya godaan bisa membuat saya menggelepar tapi untungnya dua bidadari yang telah hadir dalam kehidupan saya dan istri menjadi penguat dan benteng untuk selalu menjaga keutuhan rumah tangga...semoga..Amin....

Resepsi itu...

oleh : Lycoris

Minggu, 21 Mar '10 19:19

Hai hai warga-warga dan penunggunya :D/ *sok artis*
Karena kemarin saya baru dari resepsian pernikahan saudara (saudara dari saudara punya anak, pusing ga??), nah saya mendadak kepikiran tentang kerepotan pihak-pihak yang terlibat, baik dari yang mengadakan resepsi maupun yang menghadiri resepsi :p

Dari pihak yang mengadakan resepsi :

1. Repot mengurus tempat, makanan, dekorasi, baju yang dipakai (kalau mau seragam sewarna), rundown acara, dll dll dll *karena blum pernah jadinya cm perkiraan aja ;))*
2. Buat orang tua kedua belah pihak : sibuk menyusun dan mendaftar siapa saja yang bakal diundang (apalagi yang punya keluarga besar *seperti saya*, belom lagi suka ada yang protes kalo namanya salah, jadi harus benar-benar teliti dan tidak boleh ada yang terlewatkan, tar ngambek lagi :D)
3. Sibuk milih merchandise (atau apa sih namanya yang suka dikasih pas resepsian buat para tamu???) yang berukirkan nama sang mempelai
4. Buat para mempelai : cape berdiri, cape senyum, cape bilang "terima kasih" :D *dilempar panci sama yang uda married*, tapi kalau resepsinya uda beres sih ada cape yang enak :D *digampar*
5. Duit! *eh tapi kalo balik modal kayanya gpp de ;))* asal jangan yg diundang 1 orang yang datang 1 keluarga besar :)) *dikubur*

Dari pihak yang menghadiri resepsi :

1. Repot milih baju pesta, dandan (kalau yang demen tampil beda pas pesta), mikirin pakai apa/sama siapa ke pestanya (kalau yang tidak punya kendaraan pribadi dan tempat resepsinya jauh)
2. Nyediain duit/hadiah
3. Setelah di tempat resepsi, perang dengan tamu-tamu yang lain! Perang di sini antara lain : berebut antrian makanan (sampai dorong-dorongan), berebut kursi, berebut bunga/boneka/apapun lah yang dilempar sang mempelai :p

Ada yang kurang? Silahkan ditambah :))

Yah, begitulah :) Jadi, nikah itu cukup sekali aja. Cape :p


dari : http://ngerumpi.com/baca/2010/03/21/resepsi-itu.html

It Takes Two To Tango

oleh : Kanjeng Ratu

Selasa, 12 Okt '10 18:17

Tadi kebetulan liat drama semelekete. Biasa aja sih, dimana-mana drama plotnya ya berkisar di situ-situ aja. Ada cewek, ketemu cowok, dan perjuangan cinta mereka yang stripping setiap hari itu dibumbui bermacam-macam muka manis, lidah-lidah cadel, baju-baju bagus yang bikin ngiri... Wis, pokoknya sama sekali ndak matching sama karakteristik tokoh yang harus diperankan.

Cerita antara dua tokoh utama ditangguhkan sebentar. Filler, istilahnya. Dalam drama yang saya tonton itu diceritakan bahwa kerabat tokoh utama tidak memiliki tempat tinggal. Si perempuan yang nampak lemah ini kemudian terpaksa menumpang di rumah seorang mesum yang sudah beristri. Sudah bisa ditebak, bapak semang yang mesum ini akhirnya merayu si kerabat tokoh utama yang memang aduhai. Eh, mendadak si ibu semang masuk memergoki mereka.

... dan PLAK!!!

Sangat tipikal sekali. Si ibu semang dipastikan akan menampar si gadis lemah yang rasanya hidupnya selalu penuh derita. Masih belum puas? Si bapak semang ikut-ikutan menuduh bahwa dia telah digoda oleh si tokoh nyaris utama ini. Kalau itu masih belum memuaskan nafsu sadis anda dan gairah masokis si kerabat tokoh utama, di beberapa drama lain juga ada yang menyajikan cerita setelah si penggoda ini ditampar dan difitnah, biasanya gadis malang yang lemah itu lalu diusir dari rumah si pasangan semang ituh. Nah, kalau sudah sampai seperti ini dahaga anda akan drama tipikal ini belum juga terpuaskan, ada juga yang mengisahkan bahwa si gadis teraniaya itu diusir keluar kampung sambil ditoyorin sama ibu-ibu tetangga, pokoknya ganas deh.

... dan itu benar-benar membuat saya bingung, sangat.

Mengapa setiap kali terjadi kasus perselingkuhan yang ketahuan, mengapa wanita yang diselingkuhi (terutama yang statusnya sudah istri) cenderung menyalahkan si wanita idaman lain? Terlepas dari kisah drama atau bukan, memang tidak menutup kemungkinan bahwa si wanita idaman lain ini memang benar merayu dan menggoda suami ibu-ibu sekalian. Tapi saya merasa janggal pada bagian ini. Hubungan percintaan yang seperti apapun, pada dasarnya seperti tarian tango. Butuh dua orang agar tango itu sempurna. Saya yakin dengan sisi idealisme yang saya miliki bahwa cinta itu berjalan dua arah. Dari laki-laki kepada perempuan, dari perempuan kepada laki-laki. Cinta itu tidak hanya sekedar memberi dan berbahagia, atau menerima luka dan berbahagia. Menurut saya cinta itu memberi, menerima, dan bahagia bersama. Cinta terlarang seklipun, berbentuk hubungan perselingkuhan sekalipun.

It takes two to tango. Kenapa ibu-ibu yang diselingkuhi lebih suka menyalahkan wanita penggoda daripada suami hidung belang? Apakah ibu-ibu itu merasa bahwa suami mereka yang baik dan penyayang itu tidak mungkin berselingkuh? Apakah ibu-ibu itu terlalu sadar bahwa suami-suami mereka memang bajingan tapi terlalu sakit untuk mengakui? Atau jangan-jangan ibu-ibu itu marah pada dirinya sendiri yang tidak bisa melayani suaminya dengan benar, lalu cemburu dan melampiaskan kemarahannya pada si wanita penggoda.

Oh, tidak. Saya tidak sedang membela wanita penggoda manapun. Saya hanya beranggapan bahwa perselingkuhan tidak bisa dilakukan seorang diri. Sedahsyat apapun godaan si wanita penggoda, perselingkuhan masih bisa dihindarkan bila si laki-laki tetap tak tergoda. Saya belum pernah berselingkuh, saya tidak tahu apa yang melatarbelakangi seseorang untuk berselingkuh. Yang saya tahu, perselingkuhan, bercinta, semuanya didasari pada cinta, dan cinta tidak menggerakkan dunia ini sendirian. Saya kurang tahu seberat apa rasanya bersuamikan seorang bajingan, tapi rasanya tidak adil kalau dosa sebuah perselingkuhan semuanya dibebankan pada wanita penggoda. It takes two to tango



... Mana mungkin suamiku pulang ke rumahmu ...
... Tanpa kau suguhkan, tanpa kau hidangkan ...
... gula gula gula gula gula gula gula gula ...
... yang manis ...

Alasan basi, suamimu itu pada dasarnya emang doyan jajan.


dari : http://ngerumpi.com/baca/2010/10/12/it-takes-two-to-tango.html

I Love You More

oleh : mrs_satia

Senin, 11 Okt '10 16:22

Hari ini 11 Oktober...

Selamat Ulang Bulan, suamiku sayang...

Terimakasih untuk tiga bulan yang penuh warna warni, penuh pembelajaran...

Walau kadang kita berbeda pemikiran, tapi inilah pernikahan, dimana dua perbedaan melebur menjadi satu menemukan jalan baru yang dinamakan kompromi, adaptasi, toleransi dan komunikasi...

Walau kadang aku ceroboh, boros, malas bersih2 rumah, cuek...tapi aku bersyukur, Tuhan mengirimku seorang lelaki yang sangat cermat, hati-hati, hemat (walau kadang pelit, hehehe...), penuh perhatian dan sangat rajin menyapu dan ngepel rumah...

dan dengan senang hati aku akan memasak sup krim makaroni kesukaanmu, menggoreng krupuk rengginang favoritmu, mencuci dan menyetrika baju serta celanamu, mendengarkan cerita2 konyolmu sesaat sebelum tidur...walau kadang kau tidur membelakangiku dan menghadiahi aku 'bom gas berbau' tiap pagi saat kita membuka mata, heheehe...

But i love u just the way u are

Semoga sampai bulan keempat, kelima, keenam dan seterusnya sampai maut memisahkan, kita bisa menjalani semua dengan lebih baik...



Terimakasih untuk cintamu...

I love u more and more...

dari : http://ngerumpi.com/baca/2010/10/11/i-love-u-more.html

Pandangan Kita Terhadap Pernikahan

oleh : rachmad yuliadi nasir

Rabu, 5 Mei '10 20:23

Salah seorang sahabat bercerita tentang pandangannya terhadap pernikahan, mungkin anda pernah dengar, menurut saya alangkah baiknya bila dapat dibagi-bagikan kepada orang lain, yang paling mengejutkan bagi sepasang pengantin -beberapa hari, satu dua minggu, mungkin juga sebulan lebih- usai menikah: bayangan sempurna suami/istri ternyata jauh panggang dari api. Suami kecewa karena istrinya tidak seperti ratu, yang sempurna di dapur dan juga di -maaf- kasur. Istri juga kesal ternyata suaminya, yang diidamkan sebagai pangeran, dianggap -maaf, lebih mirif sebagai pecundang.

Suami/istri seakan melihat semua pemandangan mengecewakan, jauh dari apa yang diidamkan saat sebelum perkawinan. Yang terlihat dari sikap dan perilaku suami/istri terpapar buruk. Suami kesal sekali, ketika mengetahui istrinya memasak telur mata sapi saja gosong. Sang istri, yang melihat penampilan keren sepanjang waktu saat sebelum menikah, baru mengetahui, suaminya punya hobby buruk meletakkan handuk usai mandi di sembarang tempat. Pulang kantor sepatu diletakkan seenaknya. Kaos kaki malas ganti hingga baunya menyebar ke seluruh ruangan rumah. Walhasil semua bangunan impian dan harapan indah seakan runtuh lantak.

Inilah titik awal paling rawan hubungan suami istri. Impian berbeda dari kenyataan. Seperti syair lagu, janji, tinggal janji, bulan madu, hanya mimpi. Segala harapan dan bayangan indah, ternyata berbanding terbalik.

Bila tak disadari, bukan tidak mungkin fakta dan data nyata itu menjadi amunisi pemicu perceraian. Bergulir seperti bola salju, menggelinding makin besar. Makin lama kekecewaan makin menggunung. Apalagi ketika tak ada lagi komunikasi. Jarak makin jauh, masalah makin menumpuk tak terselesaikan.

Saya pernah mengusulkan, ketika usai nikah, penghulu jangan hanya meminta suami membaca sighah taklid. Tetapi juga kedua mempelai menegaskan sikap untuk menerima keadaan masing-masing, apa pun adanya. Resiko ditanggung bersama, kedua belah pihak siap menerima apa adanya.

Ya. Ketika seorang menikah, harus siap menerima keadaan apa adanya. Ketika ijab kabul diucapkan seorang suami mau pun istri, harus siap menerima apa pun keadaannya. Tidak usah harus berfilsafat seperti sikap pedagang; barang yang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan dan karena tak dapat dikembalikan lalu dicampakkan. Yang terpenting ada keikhlasan saling menerima.

Tapi apa bisa? Harus bisa. Bahkan perlu disyaratkan sekurangnya diberikan penegasan bahwa salah satu kunci utama kelanggengan sebuah perkawinan adalah kesedian menerima kekurangan masing-masing. Suami menerima kekurangan istri, istri menerima kekurangan suami. Kedua, suami istri itu, berupaya saling mengisi. Kelebihan suami mengisi kekurangan istri, kelebihan istri mengisi kekurangan suami.

Lupakan keindahan yang terbentang sebelum menikah, yang biasanya memang dipaksakan terlihat indah. Bungkus rapat-rapat semua aroma manis yang ditebar saat pacaran di malam minggu, karena ternyata semuanya tak lebih dari bunga plastik. Buang jauh-jauh seribu janji, yang faktanya tak teralisir karena kemampuan sebenarnya memang tak ada. Jalani hidup di alam nyata.

Mulailah masing-masing membangun kesadaran diri; menyadari dan memahami diri sendiri. Suami harus sering menatap cermin bahwa dirinya, begitu banyak kekurangan. Istri pun demikian, jangan hanya memoles bibir dengan cat bibir, tapi menatap dengan jujur bahwa dirinya, ternyata tak bisa memenuhi harapan.

Ketika ada kesadaran bahwa 'aku' memang dipenuhi kekurangan, bangkitkan sikap lapang dada untuk menerima kekurangan orang lain. Suami menerima kekurangan istri, demikian pula istri menerima kekurangan suami. Selesai? Belum. Kesadaran kekurangan tidak boleh mandeg dan pasrah. Kesadaran kekurangan diri harus dilanjutkan menuju proses saling belajar.

Ini memang tidak mudah. Tetapi bila suami istri sudah menyadari tentang kekurangannya, titik menuju kebersamaan sudah dimulai. Kesadaran kekurangan diri itu dapat menjadi fondasi utama untuk memulai sebuah proses interaksi yang sesungguhnya. Suami istri sudah mulai saling mendekatkan diri, melakukan harmonisasi.

Bahwa tak ada yang sempurna di dunia ini. Benar, istri memiliki kekurangan. Dan ingat, bukan hanya istri yang berada dalam rumah memiliki kekurangan. "Istri-istri" (baca:perempuan lain) yang terlihat indah dan sempurna yang berada di luar rumah, juga memiliki kekurangan ketika telah menjadi belahan dan bagian hidup dari seorang suami.

Demikian pula, suami yang ternyata memiliki kekurangan, tidak lagi dibandingkan dan mengharap "suami-suami" (baca:laki-laki lain) yang terlihat bagai panggeran dan sempurna. Mereka itu, terlihat sempurna karena jauh dan belum menjadi bagian dan belahan hidup dari seorang istri.

Pernikahan pada dasarnya sebuah proses pembelajaran terutama tentang diri. Bukan tentang orang lain. Mudah melihat kekurangan orang lain; tidak mudah melihat kekurangan diri. Ketika melihat dan menyadari kekurangan diri, kita baru boleh dan merasa siap melihat kekurangan orang lain. Ketika itu terjadi, kita tidak akan mudah menyalahkan orang yang kita cintai dan sayangi. Tetapi berusaha bersama untuk memperbaiki kekurangan, membetulkan kesalahan, meningkatkan yang telah baik menjadi jauh dan jauh lebih baik.

Jangan pernah membandingkan dengan yang berada di luar rumah. Yang terkesan sempurna di luar rumah, karena belum terlihat aslinya. Belum menjadi bagian dan belahan hidup. Waspadalah...waspadalah.... he he he.... orang sering berpendapat rumput tetangga lebih indah, jangan berselingkuh lho...itu tidak baik...Jangan anda berselingkuh nanti anda pusing sendiri.

dari : http://ngerumpi.com/baca/2010/05/05/pandangan-kita-terhadap-pernikahan.html

No what-what

oleh : piepie lestari

Minggu, 5 Des '10 20:03



Tidak apa-apa jika setiap pagi aku harus membangunkanmu berulang kali hanya untuk mendapat komentar yang sama..."lima menit lagi ya ma..."



Tidak apa-apa jika setiap pagi aku harus menyiapkan sarapanmu, menge cek perlengkapanmu, memastikan seragam yang kau pakai sesuai dengan harinya...



Tidak apa-apa jika setiap hari rutinitasku adalah membersihkan semua binatang peliharaanmu, merawat, memberi mereka makan dan memastikan mereka sehat sesuai keinginanmu....



Tidak apa-apa jika setiap hari sebagian besar kegiatanku adalah membersihkan dan merapikan semua kekacauan yang kau buat malam sebelumnya bersama teman-temanmu...



Tidak apa-apa jika setiap hari di sela-sela aktivitasmu aku akan menelponmu dan bertanya "mau dimasakkan apa?"...dan kau jawab terserah... tapi jika itu tidak sesuai dengan seleramu maka kau akan merengut...



Dan



Tidak apa-apa jika kadang-kadang aku harus terngantuk-ngantuk menunggumu yang pulang larut malam...



Tidak apa-apa....





Tapi, AKU BUKAN IBUMU!!!!!



AKU ISTRIMU !!!



Dan aku capek....



Tidak apa-apa kan kalo aku capek?







dari : http://ngerumpi.com/baca/2010/12/05/no-what-what.html

because life doesn't run like we have expected...

oleh : eLectric bLue eLectric bLue

Kamis, 31 Mar '11 20:55

Because sometimes life doesn’t run like we have expected...

Itu kata – kata klise banget. Lebih saringnya sih aku dengar dari orang yang habis denger curhatan. Atau orang yang lagi nggak begitu akur sama apa yang terjadi dalam hidupnya. Artinya apa to? Secara bego, menurut pendapatku, yeah...kadang hidup itu nggak melulu seperti yang kita inginkan. And I a hundred percent agree with it!


Aku sebenernya nggak pengen kerja seperti ini
Aku sebenarnya nggak pengen nikah sama orang seperti ini
Aku sebenernya nggak mau hidup kayak gini


Kalimat – kalimat yang sangat equivalen dengan istilah itu. Betapa orang – orang sebenernya nggak pengen menjalani hidup mereka seperti apa yang mereka jalani sekarang. Then change it! No, not that easy!

Mendapatkan apa yang kita inginkan dalam hidup, mewujudkan mimpi – mimpi yang kita rajut, berjalan di jalan yang ingin kita lalui, melakukan hal – hal yang kita mau, dan semuanya yang sudah pernah terangan – angan dalam benak kita sedari dulu, kita memang berhak atas itu semua. Kita berhak!

Tapi hidup ini bukan melulu milik kita pribadi. Hidup ini bukan kita sendiri yang buat. Bukan kita sendiri! Kita, orang – orang di sekitar kita, dan Tuhan. Yeah, itu elemennya! Dan semua itu saling berkaitan. Jalan dari Tuhan (sudah pasti dari Tuhan!) yang kita punya, dan mereka punya, saling bertautan. Satu dan lainnya saling berkaitan. Dan itu ruwetnya minta ampun! *ya memang aku bukan Tuhan, dan nggak begitu ngerti juga ruwet atau enggaknya dalam versi Tuhan, tapi sih kayaknya ruwet juga... (kayaknya loh ya...cuman kayaknya...)

Jadi kalo memang sekarang hidup kita nggak berjalan seperti yang kita (pernah) harapkan, just face it, and be more thankfull for it. Kalau masih mau berjalan di jalan yang kita mau, mewujudkan apa yang pernah kita dapatkan, that’s verrryyyy good, as long as it is in positive way loh ya. But if you can’t, jangan belaga gila dengan bikin benang kehidupan jadi lebih ruwet dan bundet! *eh, bundet?


dari : http://ngerumpi.com/baca/2011/03/31/because-life-doesn-t-run-like-we-have-expected.html